Kisah Nyata


IMG_0002

Buku karya Alfian dapat didownload di https://www.mediafire.com/?08mm85ycsccrh0v

atau di google play store: https://play.google.com/store/books/details/ALFIAN_AZHAR_BASUKI_LIBURAN_KE_JATIM_PARK?id=WQrxAwAAQBAJ, atau di

Iklan

guided by ghost
This story happened in my childhood. At that time the motor vehicle not as much now. The highway was deserted, only one or in two vehicles. Always went everywhere on foot. Walking makes the body healthy. That night, I was with Ari and Riza were heading to the village Peniwen a distance of approximately 5 km. In order to quickly get us through the shortcut often we passed during the day. Between my village and the village Peniwen limited by bamboo forests, rivers, and fields. We passed through a bamboo forest without a flashlight, torches, lights, or anything to light the way. We felt it was memorized, because we often pass that way. In addition, there are areas that we passed some houses that despite the distance apart but there is light we can make the guidelines. We walked hand in hand while talking, so do not feel we’ve been through bamboo forests, across rivers, and through the rice fields. We arrived in the village Peniwen safely.
For fear of late, we go home, not too long in the village Peniwen. The time was around 19:00, a lot of houses that have been turned off the lights. The road getting dark. Especially when we entered the bamboo forest, the darkness is getting real.
“Well, it was getting dark. Unable to see anything!” Riza said.
“We quickened our steps!” I said.
Suddenly in front of me I see people wearing mukena (white garment used by women who are Muslims to prayer).
“Let’s just follow her, hurry!”
So we followed the woman wearing white mukena. The white color of mukena it allows us to see in the dark. We continued to follow the woman until we arrived at the light. When it reached the light, suddenly she was not seen again.
“Why, where a woman wearing a white mukena?” I asked.
We looked around, but no one is passing.
“Well, perhaps it is not a human being?” Ari said.
“Yes, let’s get out of here,” I said.
We immediately rushed to leave the place and did not dare look back, into the bamboo forest. Maybe there is a creature dressed in white clothes looking at us from the darkness in the bamboo forest.

mencari belut

mencari belut (gambar diolah dari pasirlutung.blogspot.com)

Belut, makhluk air yang panjang, mirip ular, tetapi tidak berbisa. Biasa hidup di lubang-lubang di sawah atau di dekat sungai-sungai kecil atau saluran pengairan di sawah. Makhluk ini termasuk jenis ikan atau apa aku tidak tahu, soal haram atau halalnya aku juga tidak tahu, yang penting rasanya gurih kalau digoreng. Belut biasanya muncul pada malam hari pada saat sawah baru selesai dipanen atau saat masih direndam air. Pada saat seperti itu akan mudah menangkap belut (biasanya dilakukan malam-malam sambil membawa obor atau lampu petromak disebut juga nyuluh dari asal kata suluh atau menerangi dengan lampu). Pada malam hari saat belut-belut itu keluar, sinar terang dari lampu akan membuat binatang yang licin itu terdiam sehingga akan dapat dengan mudah ditangkap. Pada musim panen seperti itu, biasanya anak-anak SD seperti aku, Ari, dan Riza, sudah siap sejak sore untuk menangkap belut. Accu, lampu, ember, dan pisau sudah disiapkan untuk menangkap belut. Kami kemudian pada malam harinya berangkat menuju sawah yang ada di belakang rumahku. Saat itu orang dewasa yang ikut dengan kami adalah Pak Suwandi seorang tukang cukur sekaligus tukang becak tetanggaku. Kami berangkat bersama-sama ke sawah. Setibanya di sawah kami segera menerangi sawah yang tergenang air, puluhan belut tampak berkeliaran di sawah. Saat disinari lampu, belut itu akan terdiam dan kita tinggal memukul kepala belut itu dengan pisau, matilah belut itu dan tinggal dimasukkan ke dalam ember. Begitulah kami asyik mencari belut sampai dapat satu ember penuh.
Ketika kami berjalan beriringan di pematang sawah, mendadak di sebelah kiriku muncul ular weling besar dan panjang. Kami tidak berani bergerak, ular itu terus berjalan melewati kami. Ular weling sepengetahuanku adalah ular yang gigitannya sangat mematikan. Setelah ular itu lewat kami naik ke jalan yang kering dan memutuskan untuk segera pulang. Sejak kejadian itu kami tidak pernah lagi mencari belut di malam hari. Kalau ingin makan belut, maka kami memberi potas (racun) di sawah. Tetapi tentu saja cara itu berbahaya karena semua binatang air akan mati dan sawahnya juga tercemar racun. Lagipula, pemilik sawah akan marah-marah kalau tahu sawahnya diberi potas, sebab akan merusak tanaman padinya. Akhirnya setelah dewasa dan punya uang kami memilih cara yang praktis, beli.

tiga sahabat

tiga anjing yang bersahabat

Tiger adalah seekor anjing kampung berwarna hitam, sekilas mirip doberman, tapi lebih kecil. Tiger sangat pemberani dan nekat, dia tidak pernah takut menghadapi anjing macam apa pun, semua akan dilawannya. Jika sampai kalah dalam suatu perkelahian, dia akan terus mengejar musuhnya sampai musuhnya menyerah. Pada mulanya Tiger adalah aning kecil yang sakit-sakitan dan cacingan, sampai mau dibuang oleh pemiliknya, tetapi tidak jadi. Sejak kecil Tiger sudah tampak keberaniannya, waktu diajak jalan-jalan ke swah, dia suka mengeja bebek-bebek yang sedang digembalakan. Saat besar, dia semakin berani, dia sering berkelahi dengan anjing milik Pak Rudi yang berjumlah dua ekor. Tiger selalu dikeroyo, tapi seperti biasa, Tiger tidak pernah takut, walau dikeroyok dia terus melawan. Jika sudah terjatuh dia bangun lagi dan menyerang lagi sampai musuhnya lari ketakutan. Suatu hari tetangga sampng rumah membawa anjing yang besar berasal dari Papua dan berbulu lebat. Anjing dari papua itu bernama Bomel. Semula Tiger dan Bomel berkelahi kalau bertemu, tapi lama-lama mereka bersahabat. Setelah itu datanglah anjing putih kecil yang tidak ada pemiliknya, lalu oleh pemilik Tiger anjing itu diberi makan dan ikut dipelihara bersama Tiger. Anjing putih itu betina dan diberi nama Molly. Maka ketiga anjing itu menjadi sahabat, kemana-mana selalu bersama. Dalam menghadapi musuh juga bersama. Kadang kumpulan anjing dari kampung sebelah hanya berdiam di kejauhan tidak berani mendekat kalau ada tiga ekor anjing yang bersahabat itu sedang berjaga di kampung. Anjing-anjing dari lain kmapung itu segan dan takut masuk karena ada Tiger yang pemberani dan Bomel yang berbadan besar.
Hubungan ketiga serangkai itu semakain akrab apalagi setelah Molly kawin dengan Bomel dan melahirkan lima anak yang lucu-lucu mirip bomel. Sayangnya, karena tidak ada yang merawat, kelima anak anjing itu meninggal semua.
Pada suatu malam, ketika tida sahabat itu bermain, Molly menyeberang jalan raya dan tertabrak mobil hingga meninggal. Bomel yang melihat kejadian itu rupanya sangat sedih. Dia tidak mau makan berhari-hari sampai akhirnya ditemukan meninggal di tepi sungai beberapa hari kemudian. Mayat Bome dilempar ke sungai disaksikan oleh Tiger, sahabatnya yang tersisa.
Beberapa hari kemudan Tiger tidak pulang ke rumah dan tidak ada lagi kabar beritanya sampai sekarang.