Juli 2012


DRIVER AND PASSANGER

DRIVER AND PASSANGER


Two friends wanted to ride a car. They want to travel. “You or I drive,” said one. “You’re alone,” said his friend. So the man was holding the wheel and start running the car. Along the way they talk. After a while they both sleep. But the driver to stay alert and run the vehicle, while his friend as a passenger fell asleep. Arrive at an intersection, there are hints towards the sea and mountains. The driver decided to take the journey to the mountain. Some time later the car arrived at the mountain. Passengers awoke. “Why are we here?” He asked after waking up. “On the mountain,” replied his friend who was driving the car. “Why should we travel to the mountain?” Asked the passenger. “Because I was driving and you do not ask to go to sea, so I decided to go to the mountain. As a driver I am entitled to drive my car at will “said the driver. The passenger was silent to hear that explanation.
Moral: In this life should be a “driver” that determines the direction of its own goals rather than as “passengers” who just joined the wishes of others.

Iklan

SOPIR DAN PENUMPANG

SOPIR DAN PENUMPANG


Dua orang sahabat hendak naik sebuah mobil. Mereka hendak melakukan perjalanan wisata.“Kamu atau aku yang menyetir,” kata salah satunya. “Kamu saja,” kata temannya. Maka orang itu pun memegang kemudi dan mulai menjalankan mobil. Sepanjang perjalanan keduanya bercakap-cakap. Di tengah perjalanan keduanya sama-sama mengantuk. Tetapi pengemudi tetap waspada dan menjalankan kendaraannya, sedangkan sahabatnya sebagai penumpang sudah tertidur pulas. Tiba di sebuah perempatan, ada petunjuk menuju ke laut dan gunung. Pengemudi memutuskan untuk mengikuti jalan yang ke gunung. Beberapa lama kemudian sampailah mobil itu di gunung. Penumpang yang tertidur sudah bangun. “Lho, dimana kita ini?” tanyanya setelah bangun tidur. “Di gunung!” jawab temannya yang mengemudikan mobil. “Mengapa kita harus wisata ke gunung bukankah lebih baik ke laut?” tanya si penumpang. “Karena aku yang mengemudikan mobil dan kamu tidak meminta untuk pergi ke laut, maka aku memutuskan pergi ke gunung. Bukankah sebagai pengemudi aku berhak mengarahkan mobil ini sekehendak hatiku?” kata si pengemudi. Si penumpang hanya terdiam mendengar penjelasan itu.
Pesan Moral: Dalam hidup ini sebaiknya menjadi “pengemudi” yang menentukan arah tujuan sendiri daripada sebagai “penumpang” yang hanya ikut keinginan orang lain.

Ketika pertama kali ku ketuk pintu rumah itu
Ibumu yang membuka pintu
Aku masuk dengan ragu
Ayahmu juga ikut menemui di ruang tamu

Tapi itu dulu
Sekarang semua tinggal masa lalu
Rumah di blok M hanya tinggal kenangan semu

Sepi dan sunyi menghiasi rumah itu
Hanya burung-burung kenari menjadi saksi bisu
Rumah di Blok M tanpa penghuni seperti dulu

mencari belut

mencari belut (gambar diolah dari pasirlutung.blogspot.com)

Belut, makhluk air yang panjang, mirip ular, tetapi tidak berbisa. Biasa hidup di lubang-lubang di sawah atau di dekat sungai-sungai kecil atau saluran pengairan di sawah. Makhluk ini termasuk jenis ikan atau apa aku tidak tahu, soal haram atau halalnya aku juga tidak tahu, yang penting rasanya gurih kalau digoreng. Belut biasanya muncul pada malam hari pada saat sawah baru selesai dipanen atau saat masih direndam air. Pada saat seperti itu akan mudah menangkap belut (biasanya dilakukan malam-malam sambil membawa obor atau lampu petromak disebut juga nyuluh dari asal kata suluh atau menerangi dengan lampu). Pada malam hari saat belut-belut itu keluar, sinar terang dari lampu akan membuat binatang yang licin itu terdiam sehingga akan dapat dengan mudah ditangkap. Pada musim panen seperti itu, biasanya anak-anak SD seperti aku, Ari, dan Riza, sudah siap sejak sore untuk menangkap belut. Accu, lampu, ember, dan pisau sudah disiapkan untuk menangkap belut. Kami kemudian pada malam harinya berangkat menuju sawah yang ada di belakang rumahku. Saat itu orang dewasa yang ikut dengan kami adalah Pak Suwandi seorang tukang cukur sekaligus tukang becak tetanggaku. Kami berangkat bersama-sama ke sawah. Setibanya di sawah kami segera menerangi sawah yang tergenang air, puluhan belut tampak berkeliaran di sawah. Saat disinari lampu, belut itu akan terdiam dan kita tinggal memukul kepala belut itu dengan pisau, matilah belut itu dan tinggal dimasukkan ke dalam ember. Begitulah kami asyik mencari belut sampai dapat satu ember penuh.
Ketika kami berjalan beriringan di pematang sawah, mendadak di sebelah kiriku muncul ular weling besar dan panjang. Kami tidak berani bergerak, ular itu terus berjalan melewati kami. Ular weling sepengetahuanku adalah ular yang gigitannya sangat mematikan. Setelah ular itu lewat kami naik ke jalan yang kering dan memutuskan untuk segera pulang. Sejak kejadian itu kami tidak pernah lagi mencari belut di malam hari. Kalau ingin makan belut, maka kami memberi potas (racun) di sawah. Tetapi tentu saja cara itu berbahaya karena semua binatang air akan mati dan sawahnya juga tercemar racun. Lagipula, pemilik sawah akan marah-marah kalau tahu sawahnya diberi potas, sebab akan merusak tanaman padinya. Akhirnya setelah dewasa dan punya uang kami memilih cara yang praktis, beli.

tiga sahabat

tiga anjing yang bersahabat

Tiger adalah seekor anjing kampung berwarna hitam, sekilas mirip doberman, tapi lebih kecil. Tiger sangat pemberani dan nekat, dia tidak pernah takut menghadapi anjing macam apa pun, semua akan dilawannya. Jika sampai kalah dalam suatu perkelahian, dia akan terus mengejar musuhnya sampai musuhnya menyerah. Pada mulanya Tiger adalah aning kecil yang sakit-sakitan dan cacingan, sampai mau dibuang oleh pemiliknya, tetapi tidak jadi. Sejak kecil Tiger sudah tampak keberaniannya, waktu diajak jalan-jalan ke swah, dia suka mengeja bebek-bebek yang sedang digembalakan. Saat besar, dia semakin berani, dia sering berkelahi dengan anjing milik Pak Rudi yang berjumlah dua ekor. Tiger selalu dikeroyo, tapi seperti biasa, Tiger tidak pernah takut, walau dikeroyok dia terus melawan. Jika sudah terjatuh dia bangun lagi dan menyerang lagi sampai musuhnya lari ketakutan. Suatu hari tetangga sampng rumah membawa anjing yang besar berasal dari Papua dan berbulu lebat. Anjing dari papua itu bernama Bomel. Semula Tiger dan Bomel berkelahi kalau bertemu, tapi lama-lama mereka bersahabat. Setelah itu datanglah anjing putih kecil yang tidak ada pemiliknya, lalu oleh pemilik Tiger anjing itu diberi makan dan ikut dipelihara bersama Tiger. Anjing putih itu betina dan diberi nama Molly. Maka ketiga anjing itu menjadi sahabat, kemana-mana selalu bersama. Dalam menghadapi musuh juga bersama. Kadang kumpulan anjing dari kampung sebelah hanya berdiam di kejauhan tidak berani mendekat kalau ada tiga ekor anjing yang bersahabat itu sedang berjaga di kampung. Anjing-anjing dari lain kmapung itu segan dan takut masuk karena ada Tiger yang pemberani dan Bomel yang berbadan besar.
Hubungan ketiga serangkai itu semakain akrab apalagi setelah Molly kawin dengan Bomel dan melahirkan lima anak yang lucu-lucu mirip bomel. Sayangnya, karena tidak ada yang merawat, kelima anak anjing itu meninggal semua.
Pada suatu malam, ketika tida sahabat itu bermain, Molly menyeberang jalan raya dan tertabrak mobil hingga meninggal. Bomel yang melihat kejadian itu rupanya sangat sedih. Dia tidak mau makan berhari-hari sampai akhirnya ditemukan meninggal di tepi sungai beberapa hari kemudian. Mayat Bome dilempar ke sungai disaksikan oleh Tiger, sahabatnya yang tersisa.
Beberapa hari kemudan Tiger tidak pulang ke rumah dan tidak ada lagi kabar beritanya sampai sekarang.