Pada suatu ketika, saat kamu belum lahir dan orang tuamu masih kecil. Di sebuah desa tinggallah seorang ibu bersama anak laki-lakinya yang bernama Tomi. Sejak lahir, dia sangat suka menangis. Dia selalu menangis jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Keinginannya harus selalu dipenuhi, jika tidak dia akan menangis sekeras-kerasnya. Dia belum berhenti menangis jika keinginannya belum dipenuhi. Ibu Tomi selama ini selalu menuruti kehendak anak itu jika sudah mulai menangis. Tidak ada yang mau menjadi teman bermain Tomi, sebab dia tidak pernah mau mengalah dan semua keinginannya harus dipenuhi oleh teman-temannya. Jika teman-temannya menolak apa yang dikatakannya, maka dia akan menangis sekeras-kerasnya. Setiap Tomi keluar untuk bermain atau bergabung dengan anak-anak lainnya, mereka selalu lari menghindar. Tomi hanya dapat melihat teman-temannya bermain dengan riang gembira, dia tidak dapat bergabung dengan mereka karena begitu dia datang, maka semuanya akan lari menghindar. Tomi tidak pernah tahu, mengapa tidak seorangpun yang mau berteman dengannya. Dia menanyakan hal itu pada ibunya, tetapi ibunya juga tidak tahu. Maka, Tomi memohon pada ibunya untuk mencari tahu mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.

Suatu hari, ibu Tomi akhirnya mengetahui mengapa Tomi tidak mempunyai teman. Ibu Tomi memutuskan bahwa pada hari ulang tahun Tomi berikutnya, dia akan memberitahu rahasia itu sebagai hadiah bagi Tomi.

Akhirnya, hari ulang tahun yang ditunggu-tunggu datang juga. Undangan pesta ulang tahun telah diberikan kepada seluruh anak di desa itu, tetapi hanya ada lima orang yang datang. Selama pesta berlangsung Tomi tampak selalu cemberut, karena yang hadir pada ulang tahunnya Cuma segelintir orang. Setelah merayakan ulang tahun Tomi, ibunya meminta Tomi untuk datang ke kamarnya untuk mendapatkan hadiah. Maka, Tomi dengan senang datang ke kamar ibunya. Di dalam kamar, ibunya memberitahu bahwa hadiahnya adalah rahasia mengapa tak seorangpun mau menjadi teman Tomi.

Tomi berteriak dan berkata pada ibunya,”Aku tidak ingin hadiah berupa rahasia, aku ingin hadiah lainya.” Tetapi ibunya berkata, “Ini adalah hadiah terbaik bagimu karena akan menyebabkan kamu mempunyai teman.”

“Baiklah, kamu ingin punya teman, bukan?” tanya ibunya. Tomi berkata, “Aku ingin punya teman, tapi aku tidak mau hadiah ini. Aku ingin hadiah yang sesungguhnya.” Tomi terus menangis.

“Tapi ini hadiah yang istimewa,” kata ibunya.

“Jika kamu tidak mau mendengar rahasia ini maka seumur hidupmu kamu tidak akan punya teman, karena tidak seorangpun mau berteman denganmu,” kata ibu Tomi dengan tegas.

Tomi memandang wajah ibunya yang kelihatan jengkel, maka dia menghentikan tangisannya.

“Baiklah, aku mau menerima hadiah itu,” kata Tomi sesaat kemudian.

Ibunya mengelus kepala Tomi dengan lembut.

“Sebenarnya semua anak ingin berteman denganmu,” kata ibunya.

“Benarkah?” kata Tomi dengan berbinar.

“Ya, semua ingin bermain dan bergembira bersamamu, asal…” Ibu memutus perkataannya.

“Asal apa?” tanya Tomi penasaran.

“Asal kamu tidak menangis jika keinginanmu tidak dipenuhi,” kata ibu Tomi tegas.

Tomi berpikir sejenak.

“Baiklah, kalau begitu, mulai sekarang aku berjanji tidak suka menangis lagi,” kata Tomi mantap.

Ibu Tomi sangat bahagia mendengar janji anaknya, dia memeluk Tomi dengan erat. Sejak saat itu Tomi tidak lagi suka menangis dan dia mendapatkan banyak teman.