Mei 2008


Pangeran telah berhasil menemukan putri yang memakai sepatu kaca pada pesta yang diadakan di istana. Sepatu kaca yang dicoba oleh Cinderella sangat pas dengan ukuran kakinya. Pangeran sangat bersuka cita, dia segera memboyong CInderella ke istana. Ibu tiri yang jahat dan dua anaknya tidak ikut diboyong ke istana. Cinderella sangat senang sekali, dia membayangkan kehidupan yang menyenangkan di istana bersama Pangeran yang dicintainya.

Sesampainya di istana, Cinderella diberi pakaian yang indah-indah, dia didandani layaknya putri raja. Segala perhiasan dikenakan di seluruh tubuhnya. Makin cantiklah Cinderella. Selain itu dia juga harus mengikuti peraturan istana yang ketat. Makan, tidur, jalan-jalan, semua harus mengikuti peraturan yang ada di istana. Cinderella tidak bisa lagi menemui teman-temannya, tikus-tikus, burung, kucing, dan semua yang dulu telah membantunya.

Hari pernikahan antara Cinderella dan Pangeran akan diadakan besar-besaran. Tetapi sebelum hari pernikahan itu dilaksanakan, Pangeran harus menjalankan tugas kerajaan sehingga pernikahan ditunda. Pangeran berangkat ke medan perang untuk memadamkan pemberontakan. Pangeran meninggalkan Cinderella di istana.

Cinderella merasa kesepian, tidak ada teman-teman yang baik hati yang menemaninya. Di istana dia harus mengikuti peraturan istana yang ketat, tidak boleh kemana-mana tanpa seizin Ibu Suri atau permaisuri Raja.

Ibu suri pada mulanya tidak begitu memperdulikan Cinderella, tetapi setalah beberapa lama tinggal di istana, sikap ibu suri yang sesungguhnya mulai terlihat. Dia sering mencemooh Cinderella, dan menganggapnya sebagai gadis kampung yang tidak tahu aturan. Apalagi jika Cinderella salah melanggar peraturan istana atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan adat di istana. Ibu Suri sering menegur dan marah-marah pada Cinderella. Sikap itu tentu saja tak jauh beda dengan sikap ibu tiri Cinderella.

Cinderella merasa sedih, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan istana. Pada malam hari yang sunyi, dia membawa perbekalan dan menyelinap keluar dari istana. Dia terus berlari menuju hutan dan sejak saat itu tak ada seorangpun yang pernah melihatnya lagi.

Iklan

Kancil adalah binatang kecil yang cerdik. Ia dapat melepaskan diri dari bahaya yang mengancamnya. Dengan akalnya, ia dapat menipu harimau yang hendak memangsanya. Saat bertemu dengan kancil, harimau selalu mengutarakan maksudnya untuk memakan kancil. “Cil, aku lapar, cil, sudah beberapa hari ini aku tidak makan, aku ingin memakanmu!” begitulah kata harimau pada kancil. Apa jawab kancil? Dengan tenang ia berkata, “Ya, kamu boleh memakanku, tetapi aku masih ada tugas,” Harimau menjadi penasaran mendengar jawaban kancil itu. “Tugas apa cil?” tanya harimau. “AKu mendapat tugas dari Nabi sulaiman untuk menunggui bubur,” kata kancil sambil menunjuk seonggok kotoran sapi yang tertutup daun pisang di dekatnya. Harimau tampaknya mempercayai ucapan kancil dan membuatnya ingin mencicipi kotoran sapi yang oleh kancil disebut bubur. “Cil, aku ingin makan bubur itu cil, sedikit saja,” Harimau mencoba merayu kancil. Merasa tipuannya berhasil, kancil tersenyum senang, kemudian katanya, “wah tidak bisa, aku nanti dimarahi Nabi Sulaiman.” Mendengar jawaban itu harimau bukannya menyerah, ia terus mendesak kancil agar mengizinkannya memakan bubur. Akhirnya dengan kelihatan terpaksa kancil mengizinkan.”Baiklah, kalau kamu memaksa, tetapi ada syaratnya. AKu akan pergi dahulu dari sini agar tidak dimarahi Nabi Sulaiman. Kmau baru boleh memakannya kalau seterlah aku hilang dari pandanganmu.” Harimau menyetujui syarat kancil itu. Ia menunggu sampai kancil sudah tidak terlihat lagi. Setelah kancil tidak terlihat dengan rakus ia melahap bubur itu, apa yang terjadi? Harimau muntah-muntah karena rasa kotoran sapi yang tidak enak itu. Ia menjadi marah dan mengejar kancil yang sudah tidak mungkin terkejar lagi.

Pada suatu ketika, saat kamu belum lahir dan orang tuamu masih kecil. Di sebuah desa tinggallah seorang ibu bersama anak laki-lakinya yang bernama Tomi. Sejak lahir, dia sangat suka menangis. Dia selalu menangis jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Keinginannya harus selalu dipenuhi, jika tidak dia akan menangis sekeras-kerasnya. Dia belum berhenti menangis jika keinginannya belum dipenuhi. Ibu Tomi selama ini selalu menuruti kehendak anak itu jika sudah mulai menangis. Tidak ada yang mau menjadi teman bermain Tomi, sebab dia tidak pernah mau mengalah dan semua keinginannya harus dipenuhi oleh teman-temannya. Jika teman-temannya menolak apa yang dikatakannya, maka dia akan menangis sekeras-kerasnya. Setiap Tomi keluar untuk bermain atau bergabung dengan anak-anak lainnya, mereka selalu lari menghindar. Tomi hanya dapat melihat teman-temannya bermain dengan riang gembira, dia tidak dapat bergabung dengan mereka karena begitu dia datang, maka semuanya akan lari menghindar. Tomi tidak pernah tahu, mengapa tidak seorangpun yang mau berteman dengannya. Dia menanyakan hal itu pada ibunya, tetapi ibunya juga tidak tahu. Maka, Tomi memohon pada ibunya untuk mencari tahu mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.

Suatu hari, ibu Tomi akhirnya mengetahui mengapa Tomi tidak mempunyai teman. Ibu Tomi memutuskan bahwa pada hari ulang tahun Tomi berikutnya, dia akan memberitahu rahasia itu sebagai hadiah bagi Tomi.

Akhirnya, hari ulang tahun yang ditunggu-tunggu datang juga. Undangan pesta ulang tahun telah diberikan kepada seluruh anak di desa itu, tetapi hanya ada lima orang yang datang. Selama pesta berlangsung Tomi tampak selalu cemberut, karena yang hadir pada ulang tahunnya Cuma segelintir orang. Setelah merayakan ulang tahun Tomi, ibunya meminta Tomi untuk datang ke kamarnya untuk mendapatkan hadiah. Maka, Tomi dengan senang datang ke kamar ibunya. Di dalam kamar, ibunya memberitahu bahwa hadiahnya adalah rahasia mengapa tak seorangpun mau menjadi teman Tomi.

Tomi berteriak dan berkata pada ibunya,”Aku tidak ingin hadiah berupa rahasia, aku ingin hadiah lainya.” Tetapi ibunya berkata, “Ini adalah hadiah terbaik bagimu karena akan menyebabkan kamu mempunyai teman.”

“Baiklah, kamu ingin punya teman, bukan?” tanya ibunya. Tomi berkata, “Aku ingin punya teman, tapi aku tidak mau hadiah ini. Aku ingin hadiah yang sesungguhnya.” Tomi terus menangis.

“Tapi ini hadiah yang istimewa,” kata ibunya.

“Jika kamu tidak mau mendengar rahasia ini maka seumur hidupmu kamu tidak akan punya teman, karena tidak seorangpun mau berteman denganmu,” kata ibu Tomi dengan tegas.

Tomi memandang wajah ibunya yang kelihatan jengkel, maka dia menghentikan tangisannya.

“Baiklah, aku mau menerima hadiah itu,” kata Tomi sesaat kemudian.

Ibunya mengelus kepala Tomi dengan lembut.

“Sebenarnya semua anak ingin berteman denganmu,” kata ibunya.

“Benarkah?” kata Tomi dengan berbinar.

“Ya, semua ingin bermain dan bergembira bersamamu, asal…” Ibu memutus perkataannya.

“Asal apa?” tanya Tomi penasaran.

“Asal kamu tidak menangis jika keinginanmu tidak dipenuhi,” kata ibu Tomi tegas.

Tomi berpikir sejenak.

“Baiklah, kalau begitu, mulai sekarang aku berjanji tidak suka menangis lagi,” kata Tomi mantap.

Ibu Tomi sangat bahagia mendengar janji anaknya, dia memeluk Tomi dengan erat. Sejak saat itu Tomi tidak lagi suka menangis dan dia mendapatkan banyak teman.

Menurut sebuah cerita dari Afrika, kucing pada zaman dahulu tinggal di hutan dan terkenal sebagai makhluk penakut. Oleh sebab itu, selalu mencari makhluk lain yang dianggapnya lebih kuat sebagai tempat perlindungan baginya. Pada mulanya kucing berlindung kepada singa karena kucing menganggap singa adalah makhluk yang perkasa. Binatang-binatang lain seperti rusa, kelinci, dan babi hutan merasa ketakutan bila melihat singa datang. Suatu hari singa bertemu dengan gajah dan mencoba untuk menerkamnya. Tetapi singa dibelit belalai gajah dan dibanting hingga tewas. Mengetahui bahwa gajah lebih kuat dari singa, maka kucing ganti berlindung kepada gajah. Kemanapun gajah pergi, kucing selalu ikut. Akhirnya suatu saat datanglah seorang pemburuyang membunuh gajah dan mengambil gadingnya. Kucing lalu berpikir bahwa pemburu itulah makhluk yang paling kuat. Kucing mengikuti pemburu hingga sampai di rumahnya. Di sana, kucing melihat pertengkaran antara pemburu dan istrinya. Pemburu ketakutan melihat istrinya marah-marah. Melihat kejadian itu, kucing akhirnya mengambil kesimpulan bahwa makhluk perempuan itu adalah yang paling perkasa. Maka kucing berlindung kepada istri pemburu itu. Oleh karena kaum wanita di Afrika pada zaman dahulu selalu tinggal di rumah, kucing tinggal di rumah juga, hingga kini, kucing manjadi betah tinggal di rumah

Seorang Gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan keheranan sang Gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?” Janda bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya perlukan bukan dinar melainkan bekal akhirat.” “Maksud engkau?” tanya sang Gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu. “Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu sholat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.”

Dengan jawaban seperti itu, sang Gubernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail sudah mengintainya.

Akhirnya sang Gubernur jatuh cinta kepada perempua lusuh yang berparas hanya lebih bagus sedikit dari monyet itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis fikir, bagaimana seorang gubernur dapat menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.

Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh Gubernur dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, termasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas cristal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya terbengong dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, pertanda ada orang gila yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk. Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan kehairanan.

Gubernur lalu bertanya, “Mengapa kau banting gelas itu?” Tanpa takut wanita itu menjawab, “Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini bererti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.” Gubernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu. Sebab lainnya?” tanya Gubernur. Wanita itu menjawab, “Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.” Gubernur kian takjub. Demikian pula para tamunya. “Masih ada sebab lain?”

Perempuan itu mengangguk dan berkata, “Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya.”

Maka ketika kemudian Gubernur yang kematian isteri itu melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan berbalik sangat gembira karena Gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernurnya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.

Diriwayatkan seorang raja berhasil membangun sebuah kota dengan segala keperluannya yang cukup megah. Kemudian raja itu mengundang rakyatnya untuk berpesta ria menyaksikan kota itu. Pada setiap pintu, penjaga diperintahkan untuk menanyai setiap pengunjung adakah cela dan kekurangan kota yang dibangunnya itu.
Hampir seluruh orang yang ditanyai tidak ada cacat dan celanya. Tetapi ada sebagian pengunjung yang mengatakan bahwa kota itu mengandungi dua cacat. Sesuai dengan perintah raja, mereka ditahan untuk dihadapkan kepada raja.

“Apa cacat dan cela kota ini?” tanya raja.
“Kota itu akan rusak dan pemiliknya akan mati.” Jawab orang itu. Tanya raja, “Apakah ada kota yang tidak akan rusak dan pemiliknya tidak akan mati?”
“Ada. Bangunan yang tidak bisa rusak selamanya dan pemiliknya tidak akan mati.” Jawab mereka.
“Segera katakan apakah itu.” Desak raja.
“Surga dan Allah pemiliknya,” jawabnya tegas.
Mendengar cerita tentang surga dan segala keindahannya itu, sang raja menjadi tertarik dan merinduinya. Apa lagi ketika mereka menceritakan tentang keadaan neraka dan azabnya bagi manusia yang sombong dan ingin menandingi Tuhan. Ketika mereka mengajak raja kembali ke jalan Allah, raja itu pun ikhlas mengikutinya. Ditinggalkan segala kemegahan kerajaannya dan jadilah ia hamba yang taat dan beribadah kepada Allah.

Di siang hari yang panas itu, seekor musang tampak berjalan terseok-seok di

pasir. Tubuhnya lemah tak bertenaga. Sudah satu hari ia tidak makan, sehingga ia merasa

lapar sekali, sedangkan hutan tempat binatang .kecil buruannya masih jauh. Dengan

memaksa diri, ia tiba di tepi muara sungai. la minum air sungai dengan rakusnya.

“Kenapa kamu pucat musang? Kamu sakit keras’?” tegur seekor ayam hutan besar

yang mematuk-matuk udang di tepi muara.

“Ya, tolong terbangkan aku ke hutan di seberang muara ini, If pinta musang.

Melihat keadaan musang itu, ayam hutan merasa iba dan bersedia menolong. Ia terbang

membawa musang yang berpegangan erat di kakinya.

Sesampainya di hutan, musang tak mau melepaskan kaki ayam hutan. la bahkan

mencabuti semua bulu ayam hutan yang berwarna kuning keemasan itu. Ayam hutan

pingsan karena kesakitan. Musang mengira ayam hutan itu sudah mati. Kemudian

bangkai ayam hutan disembunyikannya di dalam semak belukar. Selanjutnya musang itu

pergi mencari api di dalam hutan yang akan digunakannya untuk memanggang ayam

hutan itu.

Sesaat setelah kepergian musang, ayam hutan kemudian sadar. Dia menangis

tersedu-sedu sebab kehilangan. semua bulunya.

“He, kenapa badannu, siapa yang teIah mencabuti bulu-bulumu?” tanya seekor

kuda nil yang kebetulan lewat, dengan heran.

A yam hutan menceritakan semua yang dialaminya. Alangkah marahnya kuda nil mendengar perlakuan musang.

“Kurang ajar!” Biarlah kuberi pelajaran musang itu. Sembunyilah kau di tempat lain,” ujar kuda nil.

Ayam hutan menuruti saran kuda nil tersebut. Ketika musang datang membawa obor dan mencari ayam hutan, kuda nil membohonginya.

“Ayam hutan itu rupanya belum mati, ia berenang ke tengah laut,” katakuda nil. Musang meminta kuda nil mengantarnya ke gundukan batu karang di tengah laut, karena ia mengira si ayam hutan bersembunyi di sana. Dengan ramah kuda nil bersedia mengantarnya. Tanpa pikir panjang musang naik ke punggung kuda nil yang kemudian berenang ke gundukan batu karang di tengah laut. Akan tetapi, setelah musang meloncat ke gundukan batu karang itu, kuda nil segera meninggalkannya.

“Semoga kau mampus disergap hiu!” ujar kuda nil.

Akibat ditinggalkan kuda nil di tengah laut. Musang menjadi sedih, kemudian ia duduk di puncak batu karang dan menangis dengan keras. Tangisan ita membuat seekor kura-kura yang berenang tak jauh dari karang itu tertarik dan menghampiri musang.

“Mengapa kamu menangis?” tegur kura-kura itu. Aku heran, bagaimana kau dapat ke sini,” lan jut kura~kura sambil mendekati musang.

“Aku terseret air saat ada banjir besar dan terdampar disini,” jawab musang berbohong. Karena kasihan, kura-kura mengantarkan musang ke pantai. Musang naik ke punggung kura-kura.

”Bagaimana kau dapat berenang dengan cepat?” tanya musang. “Dengan kayuhan kaki-kakiku,” jawab kura-kura tanpa curiga.

Ketika sudah tiba di pantai. musang menyatakan keinginannyannya untuk melihat kaki kura-kura. Tanpa ragu-ragu kura-kuraa mengabulkan keinginan musang itu dan segera tubuhnya dibalikkan oleh musang. Temyata musang segera meninggalkan kura-kura dalam keadaan terbalik. Ia bermaksud mencari harimau, karena hanya harimaulah yang dapat mengeluarkan daging kura-kura dari kulitnya yang keras itu.

Kura-kura menangis dan berteriak-teriak minta tolong. “Mengapa kamu?” tanya seekor tikus yang mendekat.

Kura-kura lalu menceritakan perlakuan musang padanya. Tikus pun mejadi sangat marah terhadap musang yang tak tahu membalas budi itu. Ia laIu memanggil teman­temannya dan menggali pasir di bawah badan kura~kura, dengan harapan apabila air pasang naik kura-kura dapat membalikkan tubuhnya dengan mudah. Sementara menunggu kedatangan musang, tikus~tikus itu menutupi tubuh kur-kura dengan tubuh mereka sendiri. Dan menari-nari sambil bemyanyi:

“Mari kita bergembira … bersama musang yang jenaka … yang berhasil menipu Raja Rimba … yang mengira betul~betu1 ada kura-kura, padahal hanya kita yang ada … ”

Musang yang datang bersama harimau sangan heran ketika melihat tidak ada kura-kura yang dibalikkannya tadi, yang ada hanya tikus-tikus yang bernyanyi seolah mengejek dirinya. Mendengar nyanyian tikus-tikus itu, harimau menjadi marah karena merasa ditipu.

“Mana kura-kura yang kau katakan itu?” katanya dengan geram. Kemudian tarrpa banyak bicara lagi musang itu diterkam oleh harimau dan dibawa lari kedalam hutan.

TAMAT