Pada suatu masa di Rusia hiduplah seorang nelayan tua dengan isterinya di tepi pantai laut yang biru. Mereka miskin dan tinggal di sebuah gubuk tanah liat tua. Penghasilannya dari memancing, sedangkan isterinya memintal kain. Suatu hari nelayan tua itu menangkap ikan emas kecil di jaringnya. Ikan itu memohon padanya, “Lepaskan aku, orang tua. Aku akan menukar kebebasanku dengan memberimu apapun yang kau inginkan.” Nelayan tua itu sangat terkejut dan takut karena belum pernah selama hidupnya mendengar ikan bicara. Dia membiarkan ikan itu pergi dan berkata dengan ramah, “Semoga Tuhan melindungimu, ikan emas. Aku tidak menginginkan apapun darimu.”

Nelayan tua itu pulang ke rumah dan menceritakan kejadian aneh di pantai itu pada isterinya. Tetapi isteri nelayan itu mengutuk dan memaki dengan marah dan berkata, “Kamu tolol! Mengapa  tidak meminta sesuatu! Setidaknya kamu minta tempat makan ternak yang baru, karena milik kita sudah rusak.”

Nelayan tua itu kembali ke tepi laut, saat ombak kecil menyapu pasir pantai. Dia memanggil ikan emas yang segera muncul dan bertanya, “Apa yang kau inginkan nelayan tua?” Nelayan itu menundukkan kepalanya memberi hormat, dan menceritakan bahwa isterinya sangat marah padanya dan minta sebuah tempat makan ternak yang baru. Ikan emas menghibur nelayan tua itu dan berjanji akan memenuhi permintaannya.

Ketika nelayan tua itu kembali ke rumah dia melihat sebuah tempat makan ternak baru. Tetapi isterinya berteriak kepadanya, “‘Kamu benar-benar orang yang tolol! Pergilah ke ikan itu! Mintalah rumah baru.”

Nelayan tua kembali ke pantai, saat langit mulai mendung dan ombak mulai besar. Dia berteriak memanggil ikan emas, yang segera muncul dekat tempatnya berdiri. Nelayan itu meminta maaf pada ikan dan berkata bahwa isterinya yang pemberang menginginkan rumah baru. Ikan emas menenangkan hati nelayan itu dan berjanji mengabulkan permintaanya.

Saat dia pulang, dilihatnya sebuah rumah mewah yang besar lengkap dengan pintu gerbang yang megah. Tetapi isterinya masih berteriak bahkan lebih keras, “Kamu benar-benar tolol! Kembalilah ke ikan itu! Aku tidak ingin menjadi petani biasa, Aku ingin menjadi bangsawan!”

Nelayan malang itu kembali ke laut. Ombak semakin besar dan menghantam pantai dengan keras, langit semakin kelam. Dipanggilnya ikan emas, yang segera muncul dan menanyakan apa yang diinginkannya. Nelayan itu memberi hormat sedalam-dalamnya dan menjelaskan, “Janganlah marah, tuan ikan emas. Isteriku semakin menjadi-jadi; dia ingin jadi bangsawan.” Ikan emas menenangkannya.

Dan apa yang ditemuinya saat dia pulang? Rumahnya berubah menjadi rumah yang besar. Isterinya mengenakan mantel dari bulu dan mengenakan kokoshnik (penutup kepala) yang indah dari kain brokat. Dia memiliki kalung mutiara dan cincin emas. Terdapat beberapa pelayan disekelilingnya. Nelayan tua berkata, “Selamat, tuan puteri, kuharap kamu puas sekarang.” Wanita itu tidak berkenan menjawabnya, bahkan dia menyuruh nelayan tua itu tinggal di kandang kuda.

Beberapa minggu kemudian, isteri nelayan itu menyuruh agar suaminya menghadap kepadanya dan memerintahkannya untuk pergi ke laut lagi, katanya, “Aku masih harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh penguasa! Aku ingin menjadi ratu atas negeri ini!” Nelayan tua dengan ketakutan berkata, “Apa kamu sudah gila, wanita tua? Kamu tidak punya kemampuan untuk mengatur negara. Semua orang akan mentertawakanmu.” Mendengar kata-kata itu, isteri nelayan menjadi marah, menampar muka nelayan tua itu dan memerintahkannya agar patuh.

Nelayan tua pergi ke laut. Ombak besar bergulung-gulung, langit hampir hitam oleh mendung yang menggumpal. Dia memanggil ikan emas. Ketika ikan emas muncul, nelayan itu memberi hormat dan mengatakan bahwa sekarang isterinya ingin menjadi ratu. Ikan emas menghiburnya dan menyuruhnya pulang.

Saat nelayan tua tiba di rumah, dia menemukan istana yang indah, isteri nelayan duduk di atas singasana. Boyars (pejabat) dan para bangsawan menjadi pelayannya. Di sekelilingnya berdiri para pengawal yang menakutkan. Nelayan tua itu menjadi sangat ketakutan, tetapi dia mendekati ratu dan berkata, “Selamat, tuan puteri. Kuharap anda bahagia sekarang.” Ratu sama sekali tidak melihat nelayan tua itu, dan memerintahkan pengawalnya untuk melemparnya keluar.nelayan.jpg

Beberapa minggu kemudian ratu memanggil nelayan tua dan memerintahkannya kembali untuk ke laut. Kali ini dia meminta agar ikan emas menjadi pelayannya dan membuatnya menjadi kaisar seluruh laut dan daratan. Nelayan tua sangat ketakutan tetapi tidak membantah sedikitpun. Dengan patuh dia pergi ke laut.

Badai yang dahsyat sedang mengamuk di laut, dengan kilat, petir, dan gelombang raksasa menghantam pantai. Nelayan tua berteriak sekuat tenaganya dan ikan emas muncul dari ombak yang besar. Nelayan menjelaskan apa yang diinginkan isterinya sekarang. Kali ini ikan emas tidak menjawab, tetapi berbalik dan berenang jauh dan menghilang di laut yang luas. Setelah menunggu untuk beberapa lama dengan sia-sia untuk menunggu jawaban, nelayan tua itu kembali ke rumahnya. Di sana dilihat gubuk tuanya, isterinya yang tua dan miskin dan tempat makan ternak yang rusak di depan isterinya.

 

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB

yokovitara@gmail.com