Pada suatu ketika hiduplah seorang janda tua dan putrinya. Beberapa waktukemudian, seorang lelaki yang juga mempunyai seorang anak gadis dari pernikahan terdahulu menikahi janda tua itu. Wanita itu sangat menyayangi anaknya sendiri, mendoakannya setiap waktu, tetapi dia memandang rendah anak tirinya. Dia mencari-cari kesalahan dari setiap hal yang dilakukan anak tirinya dan membuat kerjanya menjadi lama dan keras sepanjang hari. Suatu hari wanita tua itu berpikir untuk melenyapkan anak tirinya selamanya.

morosko.jpgDia meminta pada suaminya, “Bawalah dia ke suatu tempat yang tak terlihat oleh mataku, tak terdengar oleh telingaku lagi tentangnya. Dan jangan membawanya ke rumah familimu. Bawalah dia dalam dinginnya hutan yang menggigit dan tinggalkan dia di sana.”

Lelaki tua itu berduka cita dan menangis tetapi dia tahu tak dapat berbuat apapun; isterinya selalu tak bisa dibantah keinginannya. Jadi dia membawa gadis itu ke dalam hutan dan meninggalkannya di sana. Lelaki tua itu cepat-cepat pulang karena dia tidak ingin melihat anak gadisnya membeku.

Oh, gadis yang malang, duduk di salju, dengan tubuh menggigil gigi gemeretak! Maka muncullah Morozko (Penguasa musim dingin), meloncat dari pohon ke pohon, mendatangi gadis itu.

“Kamu merasa hangat, gadisku?” tanya Morozko.

“Selamat datang, Morozko sayang. Ya, aku merasa cukup hangat,” kata gadis itu, walaupun dia merasa kedinginan sampai menusuk tulang.

Pada mulanya, Morozko berniat membekukan gadis itu dengan cengkeramannya yang membekukan. Tetapi dia mengagumi ketenangan gadis muda itu dan memberikan pengampunan. Dia memberi gadis itu mantel bulu  yang hangat dan menyelimutinya dengan selimut kapas sebelum dia pergi.

Tak lama kemudian, Morozko kembali untuk memeriksa gadis itu. “Kamu merasa hangat, gadisku?” tanyanya.

“Selamat datang lagi, Morozko sayang. Ya, aku merasa hangat,” kata gadis itu. Dan dia sungguh-sungguh lebih hangat. Jadi kali ini Morozko memberikan kotak besar sebagai tempat duduk.

Beberapa saat kemudian, Morozko kembali sekali lagi untuk menanyakan keadaan gadis itu. Gadis itu merasa lebih baik sekarang, dan kali ini Morozko memberinya perhiasan perak dan emas untuk dipakai, dengan cukup perhiasan untuk mengisi kotak yang  didudukinya!

Sementara itu, di gubuk ayah gadis itu, wanita tua meminta pada suaminya untuk kembali ke hutan dan mengambil tubuh anaknya. “Bawalah yang tersisa darinya,” perintah wanita tua itu. Lelaki tua itu melakukan apa yang diperintahkan dan kembali ke hutan. Kegembiraan meluap ketika dia melihat anak gadisnya masih hidup, mengenakan mantel dan dihiasi dengan perak dan emas!

Ketika dia tiba di rumah sambil membawa putrinya dan kotak penuh perhiasan, isterinya melihat dengan penuh kekaguman.

“Persiapkan kuda, bandot tua, dan bawa puteriku sendiri ke tempat yang sama di hutan dan tinggalkan dia di sana,” kata wanita itu dengan pandangan tamak. Lelaki tua melakukan apa yang diperintahkan.

Seperti gadis sebelumnya, anak wanita tua itu mulai menggigil kedinginan. Dalam waktu singkat, Morozko datang dan bertanya apa yang dilakukan gadis itu.

“Apakah kamu buta?” jawab gadis itu. “Tidak kamu lihatkah tangan dan kakiku mati rasa karena kedinginan? Dasar,  kamu orang tua tolol!”

Keesokan paginya, di gubuk lelaki tua, wanita tua membangunkan suaminya dan memerintahkan untuk membawa anak gadisnya pulang, sambil menambahkan, “Hati-hati dengan kotak perhiasannya.” Lelaki tua itu patuh dan pergi menjemput anak gadis wanita tua itu.

Tak lama kemudian, gerbang kayu di halaman berderit. Wanita tua keluar dan melihat suaminya berdiri dekat sebuah benda yang tertutup kain. Wanita tua itu maju dan menyingkirkan kain penutupnya. Kengerian baginya, dia melihat tubuh anak gadisnya, membeku oleh kemarahan Morozko. Dia mulai menjerit dan mencaci maki suaminya, tetapi semuanya sia-sia.

Akhirnya, anak gadis lelaki tua itu menikah dengan seorang tetangganya, mempunyai anak, dan hidup dengan bahagia. Ayahnya sering mengunjungi cucunya, dan mengingatkan pada mereka untuk selalu menghormati si tua penguasa musim dingin, Morozko.