Februari 2008


D

i kota kuno Novgorod hiduplah seorang pemusik miskin bernama Sadko yang memainkan gusli (dulcimer-semacam alat musik). Sadko adalah seorang yatim piatu dan mencari sedikit uang dengan memainkan alat musiknya dan menyanyikan lagu pada pesta makan dan perayaan. Suatu hari, ketika tidak ada undangan pesta dan merasa sedih, dia duduk di tepi danau Ilmen, menyanyikan beberapa lagu indah.

sadko.jpgKetika dia selesai menyanyi, peri air, muncul dari danau dan berkata: “Terimakasih Sadko, pemain gusli. Hari ini aku sedang mengadakan pesta besar dan semua tamuku sangat senang mendengar lagumu. Aku akan memberimu hadiah dengan menceritakan suatu rahasia besar.”

Pada hari berikutnya, ada sebuah pesta besar di rumah pedagang. Para tamu mulai dengan upacara tradisi, membual tentang kekayaan dan milik mereka. Mereka meminta Sadko untuk bergabung. Sadko menjawab dengan rendah hati bahwa dia bukan oran yang kaya, tetapi dia mengetahui suatu rahasia, suatu keajaiban, dari ikan emas di danau Ilmen. Siapapun yang memakannya akan menjadi muda kembali.Tak seorangpun yang mempercayainya. Akhirnya para tamu bertaruh, jika Sadko dapat menangkap ikan itu mereka akan memberikan yang terbaik yang mereka miliki. Ternyata Sadko membuat mereka kagum karena telah berhasil menangkap ikan emas dan menjadi salah satu yang terkaya di Novgorod. Dia membangun istana yang besar, menikahi gadis cantik bernama Lubava, dan menjadi pedagang yang sukses.

Suatu hari dia armada kapal lautnya sedang dalam perjalanan pulang dengan membawa barang-barang dari negeri lain. Tetapi kapalnya menjadi lambat dan tidak bisa maju. Kemudian Sadko mengetahui bahwa Tsar penguasa samudera – Tsar Morskoy – menginginkannya untuk memberikan persembahan. Dari atas kapal mereka melemparkan emas ke dalam air berharap menenangkan Tsar, tetapi hal itu tidak membantu.

Sadko kemudian memutuskan mengorbankan dirinya sendiri dan melompat ke dalam air. Dia menemukan dirinya di istana Tsar Morskoy di dasar laut. Tsar Morskoy mengundangnya untuk bermain dalam pestanya, dan ketika Sadko bermain musik, para tamu dan Tsar Morskoy mulai menari. Peri air mendekati Sadko dan berbisik ditelinganya untuk berhenti bermain musik karena menyebabkan badai yang mengerikan di laut dan kapal-kapal tenggelam, banyak orang meninggal. Ketika  Sadko mengetahui hal ini, dia mulai melepaskan senar gusli satu demi satu sehingga dia tidak dapat bermain lagi. Dia mengatakan pada Tsar bahwa dia tidak membawa senar cadangan. Peri air berkata pada Sadko bahwa Tsar Morskoy menginginkannya untuk tinggal di kerajaan dasar laut dan menikahi salah satu puteri Tsar. Peri air mengatakan pada Sadko untuk memilih gadis terakhir di barisan karena itu adalah saudara peri air dan dapat membantu Sadko pulang ke rumah. Sadko melakukan saran peri air dan memilih gadis terakhir, River Volkva. Gadis itu membuat Sadko mengantuk dan tertidur. Saat dia terbangun, dia menemukan dirinya di tepi sungai dekat Novgorod. Dia pulang dan menemui isterinya Lubava, yang sangat senang bertemu dengannya lagi. Semua merasa sangat terkejut melihat Sadko dalam keadaan sehat walafiat. Sadko dan Lubava hidup berbahagia setelah itu.

Iklan

Pada suatu masa di Rusia hiduplah seorang nelayan tua dengan isterinya di tepi pantai laut yang biru. Mereka miskin dan tinggal di sebuah gubuk tanah liat tua. Penghasilannya dari memancing, sedangkan isterinya memintal kain. Suatu hari nelayan tua itu menangkap ikan emas kecil di jaringnya. Ikan itu memohon padanya, “Lepaskan aku, orang tua. Aku akan menukar kebebasanku dengan memberimu apapun yang kau inginkan.” Nelayan tua itu sangat terkejut dan takut karena belum pernah selama hidupnya mendengar ikan bicara. Dia membiarkan ikan itu pergi dan berkata dengan ramah, “Semoga Tuhan melindungimu, ikan emas. Aku tidak menginginkan apapun darimu.”

Nelayan tua itu pulang ke rumah dan menceritakan kejadian aneh di pantai itu pada isterinya. Tetapi isteri nelayan itu mengutuk dan memaki dengan marah dan berkata, “Kamu tolol! Mengapa  tidak meminta sesuatu! Setidaknya kamu minta tempat makan ternak yang baru, karena milik kita sudah rusak.”

Nelayan tua itu kembali ke tepi laut, saat ombak kecil menyapu pasir pantai. Dia memanggil ikan emas yang segera muncul dan bertanya, “Apa yang kau inginkan nelayan tua?” Nelayan itu menundukkan kepalanya memberi hormat, dan menceritakan bahwa isterinya sangat marah padanya dan minta sebuah tempat makan ternak yang baru. Ikan emas menghibur nelayan tua itu dan berjanji akan memenuhi permintaannya.

Ketika nelayan tua itu kembali ke rumah dia melihat sebuah tempat makan ternak baru. Tetapi isterinya berteriak kepadanya, “‘Kamu benar-benar orang yang tolol! Pergilah ke ikan itu! Mintalah rumah baru.”

Nelayan tua kembali ke pantai, saat langit mulai mendung dan ombak mulai besar. Dia berteriak memanggil ikan emas, yang segera muncul dekat tempatnya berdiri. Nelayan itu meminta maaf pada ikan dan berkata bahwa isterinya yang pemberang menginginkan rumah baru. Ikan emas menenangkan hati nelayan itu dan berjanji mengabulkan permintaanya.

Saat dia pulang, dilihatnya sebuah rumah mewah yang besar lengkap dengan pintu gerbang yang megah. Tetapi isterinya masih berteriak bahkan lebih keras, “Kamu benar-benar tolol! Kembalilah ke ikan itu! Aku tidak ingin menjadi petani biasa, Aku ingin menjadi bangsawan!”

Nelayan malang itu kembali ke laut. Ombak semakin besar dan menghantam pantai dengan keras, langit semakin kelam. Dipanggilnya ikan emas, yang segera muncul dan menanyakan apa yang diinginkannya. Nelayan itu memberi hormat sedalam-dalamnya dan menjelaskan, “Janganlah marah, tuan ikan emas. Isteriku semakin menjadi-jadi; dia ingin jadi bangsawan.” Ikan emas menenangkannya.

Dan apa yang ditemuinya saat dia pulang? Rumahnya berubah menjadi rumah yang besar. Isterinya mengenakan mantel dari bulu dan mengenakan kokoshnik (penutup kepala) yang indah dari kain brokat. Dia memiliki kalung mutiara dan cincin emas. Terdapat beberapa pelayan disekelilingnya. Nelayan tua berkata, “Selamat, tuan puteri, kuharap kamu puas sekarang.” Wanita itu tidak berkenan menjawabnya, bahkan dia menyuruh nelayan tua itu tinggal di kandang kuda.

Beberapa minggu kemudian, isteri nelayan itu menyuruh agar suaminya menghadap kepadanya dan memerintahkannya untuk pergi ke laut lagi, katanya, “Aku masih harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh penguasa! Aku ingin menjadi ratu atas negeri ini!” Nelayan tua dengan ketakutan berkata, “Apa kamu sudah gila, wanita tua? Kamu tidak punya kemampuan untuk mengatur negara. Semua orang akan mentertawakanmu.” Mendengar kata-kata itu, isteri nelayan menjadi marah, menampar muka nelayan tua itu dan memerintahkannya agar patuh.

Nelayan tua pergi ke laut. Ombak besar bergulung-gulung, langit hampir hitam oleh mendung yang menggumpal. Dia memanggil ikan emas. Ketika ikan emas muncul, nelayan itu memberi hormat dan mengatakan bahwa sekarang isterinya ingin menjadi ratu. Ikan emas menghiburnya dan menyuruhnya pulang.

Saat nelayan tua tiba di rumah, dia menemukan istana yang indah, isteri nelayan duduk di atas singasana. Boyars (pejabat) dan para bangsawan menjadi pelayannya. Di sekelilingnya berdiri para pengawal yang menakutkan. Nelayan tua itu menjadi sangat ketakutan, tetapi dia mendekati ratu dan berkata, “Selamat, tuan puteri. Kuharap anda bahagia sekarang.” Ratu sama sekali tidak melihat nelayan tua itu, dan memerintahkan pengawalnya untuk melemparnya keluar.nelayan.jpg

Beberapa minggu kemudian ratu memanggil nelayan tua dan memerintahkannya kembali untuk ke laut. Kali ini dia meminta agar ikan emas menjadi pelayannya dan membuatnya menjadi kaisar seluruh laut dan daratan. Nelayan tua sangat ketakutan tetapi tidak membantah sedikitpun. Dengan patuh dia pergi ke laut.

Badai yang dahsyat sedang mengamuk di laut, dengan kilat, petir, dan gelombang raksasa menghantam pantai. Nelayan tua berteriak sekuat tenaganya dan ikan emas muncul dari ombak yang besar. Nelayan menjelaskan apa yang diinginkan isterinya sekarang. Kali ini ikan emas tidak menjawab, tetapi berbalik dan berenang jauh dan menghilang di laut yang luas. Setelah menunggu untuk beberapa lama dengan sia-sia untuk menunggu jawaban, nelayan tua itu kembali ke rumahnya. Di sana dilihat gubuk tuanya, isterinya yang tua dan miskin dan tempat makan ternak yang rusak di depan isterinya.

 

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB

yokovitara@gmail.com

 

Pada suatu ketika hiduplah seorang janda tua dan putrinya. Beberapa waktukemudian, seorang lelaki yang juga mempunyai seorang anak gadis dari pernikahan terdahulu menikahi janda tua itu. Wanita itu sangat menyayangi anaknya sendiri, mendoakannya setiap waktu, tetapi dia memandang rendah anak tirinya. Dia mencari-cari kesalahan dari setiap hal yang dilakukan anak tirinya dan membuat kerjanya menjadi lama dan keras sepanjang hari. Suatu hari wanita tua itu berpikir untuk melenyapkan anak tirinya selamanya.

morosko.jpgDia meminta pada suaminya, “Bawalah dia ke suatu tempat yang tak terlihat oleh mataku, tak terdengar oleh telingaku lagi tentangnya. Dan jangan membawanya ke rumah familimu. Bawalah dia dalam dinginnya hutan yang menggigit dan tinggalkan dia di sana.”

Lelaki tua itu berduka cita dan menangis tetapi dia tahu tak dapat berbuat apapun; isterinya selalu tak bisa dibantah keinginannya. Jadi dia membawa gadis itu ke dalam hutan dan meninggalkannya di sana. Lelaki tua itu cepat-cepat pulang karena dia tidak ingin melihat anak gadisnya membeku.

Oh, gadis yang malang, duduk di salju, dengan tubuh menggigil gigi gemeretak! Maka muncullah Morozko (Penguasa musim dingin), meloncat dari pohon ke pohon, mendatangi gadis itu.

“Kamu merasa hangat, gadisku?” tanya Morozko.

“Selamat datang, Morozko sayang. Ya, aku merasa cukup hangat,” kata gadis itu, walaupun dia merasa kedinginan sampai menusuk tulang.

Pada mulanya, Morozko berniat membekukan gadis itu dengan cengkeramannya yang membekukan. Tetapi dia mengagumi ketenangan gadis muda itu dan memberikan pengampunan. Dia memberi gadis itu mantel bulu  yang hangat dan menyelimutinya dengan selimut kapas sebelum dia pergi.

Tak lama kemudian, Morozko kembali untuk memeriksa gadis itu. “Kamu merasa hangat, gadisku?” tanyanya.

“Selamat datang lagi, Morozko sayang. Ya, aku merasa hangat,” kata gadis itu. Dan dia sungguh-sungguh lebih hangat. Jadi kali ini Morozko memberikan kotak besar sebagai tempat duduk.

Beberapa saat kemudian, Morozko kembali sekali lagi untuk menanyakan keadaan gadis itu. Gadis itu merasa lebih baik sekarang, dan kali ini Morozko memberinya perhiasan perak dan emas untuk dipakai, dengan cukup perhiasan untuk mengisi kotak yang  didudukinya!

Sementara itu, di gubuk ayah gadis itu, wanita tua meminta pada suaminya untuk kembali ke hutan dan mengambil tubuh anaknya. “Bawalah yang tersisa darinya,” perintah wanita tua itu. Lelaki tua itu melakukan apa yang diperintahkan dan kembali ke hutan. Kegembiraan meluap ketika dia melihat anak gadisnya masih hidup, mengenakan mantel dan dihiasi dengan perak dan emas!

Ketika dia tiba di rumah sambil membawa putrinya dan kotak penuh perhiasan, isterinya melihat dengan penuh kekaguman.

“Persiapkan kuda, bandot tua, dan bawa puteriku sendiri ke tempat yang sama di hutan dan tinggalkan dia di sana,” kata wanita itu dengan pandangan tamak. Lelaki tua melakukan apa yang diperintahkan.

Seperti gadis sebelumnya, anak wanita tua itu mulai menggigil kedinginan. Dalam waktu singkat, Morozko datang dan bertanya apa yang dilakukan gadis itu.

“Apakah kamu buta?” jawab gadis itu. “Tidak kamu lihatkah tangan dan kakiku mati rasa karena kedinginan? Dasar,  kamu orang tua tolol!”

Keesokan paginya, di gubuk lelaki tua, wanita tua membangunkan suaminya dan memerintahkan untuk membawa anak gadisnya pulang, sambil menambahkan, “Hati-hati dengan kotak perhiasannya.” Lelaki tua itu patuh dan pergi menjemput anak gadis wanita tua itu.

Tak lama kemudian, gerbang kayu di halaman berderit. Wanita tua keluar dan melihat suaminya berdiri dekat sebuah benda yang tertutup kain. Wanita tua itu maju dan menyingkirkan kain penutupnya. Kengerian baginya, dia melihat tubuh anak gadisnya, membeku oleh kemarahan Morozko. Dia mulai menjerit dan mencaci maki suaminya, tetapi semuanya sia-sia.

Akhirnya, anak gadis lelaki tua itu menikah dengan seorang tetangganya, mempunyai anak, dan hidup dengan bahagia. Ayahnya sering mengunjungi cucunya, dan mengingatkan pada mereka untuk selalu menghormati si tua penguasa musim dingin, Morozko.

P

ada zaman dahulu ada di Rusia sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang Tsar muda bernama Ivan. Dia mempunyai tiga saudara, Marya, Olga, dan Anna. Ayah mereka, sebelum meninggal, berpesan pada Ivan untuk menjaga tiga gadis itu. Suatu ketika Ivan sedang berjalan dengan saudaranya, Marya, tiba-tiba terdengar kepakan sayap yang bergemuruh dan seekor burung elang terlihat di udara. Burung itu mendarat, berubah menjadi seorang pangeran tampan, dan meminta agar Marya menikah dengannya. Ivan memberikan persetujuan, maka menikahlah mereka.

marya-morevna.jpgHal yang sama terjadi pada dua saudara Ivan lainnya: Olga menikah dengan garuda dan Anna menikah dengan burung gagak, dan ketiga gadis itu tinggal di kerajaan suaminya.

Suatu hari Tsar Ivan memutuskan untuk mengunjungi saudaranya. Dalam perjalanan dia melihat istana yang indah milik pejuang puteri bernama Marya Morevna. Dia berhenti untuk tinggal beberapa hari. Keduanya jatuh cinta dan menikah.

Suatu pagi Marya Morevna pergi untuk bertempur melawan musuhnya. Puteri itu memberikan semua kunci istana pada Ivan, tetapi dengan satu peringatan, “Jangan pergi ke ruang gelap di bawah tanah.” Tetapi setelah puteri pergi, Ivan merasa penasaran dan membuka ruangan terlarang. Di sana dilihatnya Koshchey (kash-chey) dirantai di tembok.

Koshchey memohon pada Ivan, “Tolong, berikan aku air. Aku sangat haus.” Tsar Ivan yang baik hati merasa terharu melihatnya dan memberinya tiga ember air. Koshchey menjadi kuat, memutuskan rantainya dan tertawa, “Terimakasih, Pangeran Ivan. Tetapi mulai saat ini kamu tidak akan dapat lagi melihat kekasihmu Marya Morevna.” Koshchey terbang secepat badai dan Tsar Ivan mencucurkan air mata.

Ivan memutuskan untuk menemukan isteri tercintanya. Dalam perjalanan dia mengunjungi saudaranya, Marya dan suaminya burung elang dan menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya. Burung elang berkata, “Akan sangat sulit untuk menemukan Marya Morevna dan mengambilnya dari Koshchey. Berikan pada kami sendok perakmu. Kami akan melihatnya pada sendok dan berpikir tentangmu. Jika berubah menjadi hitam, itu berarti sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.” Setelah itu Ivan mengunjungi saudaranya, Olga dan burung garuda. Ivan meninggalkan untuk mereka garpu perak. Ivan kemudian pergi ke rumah saudaranya Anna dan burung gagak dan memberikan pisau peraknya.

Tsar Ivan melakukan perjalanan selama satu tahun dan satu hari sebelum sampai di istana Koshchey, yang sedang pergi jauh. Marya Morevna sangat gembira melihat Pangeran Ivan. Ivan berkata, “Aku sangat menyesal tidak menghiraukan laranganmu dan membiarkan Koshchey bebas. Tetapi sekarang aku ingin kamu pergi bersamaku; mudah-mudahan dia tidak dapat menyusul kita.” Tetapi  Koschey dapat menyusul mereka dan memotong Ivan menjadi potongan kecil. Koshchey mengembalikan Marya Morevna ke istananya.

Pada saat yang sama saudara-saudara ipar Ivan melihat  sendok, garpu, dan pisau menjadi hitam dan mereka tahu sesuatu yang mengerikan telah terjadi pada Tsar Ivan. Burung elang, garuda dan gagak berhasil menemukan Ivan dan membangkitkannya kembali dengan air kehidupan. Ivan berterimakasih pada mereka dan segera pergi untuk mencari Marya Morevna lagi.

Ketika Ivan sampai lagi di istana Koshchey dia menemukan kekasihnya Marya Morevna sendirian dan bertanya, “Dapatkah kamu bertanya pada Koshchey dimana dia mendapatkan kuda yang begitu cepat?” Malam itu Marya Morevna bertanya pada Koschey tentang kuda yang dimaksud. Koschey, “Di belakang sungai api ada Baba Yaga. Wanita itu mempunyai banyak kuda bagus. Sekali aku bekerja sebagai penggembala untuknya dan aku mendapatkan kuda sebagai hadiah.”

Hari berikutnya Pangeran Ivan memutuskan untuk pergi ke Baba Yaga dan mendapatkan kuda yang lebih baik dari milik Koshchey. Dia berjalan untuk beberapa lama dan menjadi sangat lapar. Tiba-tiba dia melihat burung di sarangnya. Ivan mengarahkan panahnya untuk memanah burung-burung itu. Tetapi ibu burung memohon padanya, “Jangan sentuh anak-anakku, Tsar Ivan. Aku mungkin dapat membantumu.” Ivan mempunyai hati yang baik dan tidak jadi membunuh burung-burung kecil itu. Kemudian di hutan dia melihat sarang lebah. Tetapi lebah-lebah itu memohon padanya untuk tidak mengambil madu mereka. Kemudian Ivan melihat singa dan anak-anaknya. “Ini makan malam yang lezat,” pikir Ivan, sambil mengarahkan panahnya. Tetapi singa memohon padanya, “Oh, Tsar Ivan, tolong, jangan bunuh anakku. Aku mungkin dapat membantumu dan berguna untukmu.” Akhirnya, lelah dan sangat kelaparan, Ivan datan ke rumah Baba Yaga dan meminta pekerjaan padanya. Dia berkata pada Ivan, “Kamu dapat menjadi penggembalaku untuk tiga hari. Jika kamu dapat menjaga kudaku dengan selamat sampai hari terakhir, aku akan memberimu satu kuda. Tetapi jika ada satu kuda yang hilang, aku akan membunuhmu, Ivan.”

Pagi harinya saat Ivan membuka kandang kuda, semua kuda lari dan menghilang. Ivan mulai menangis dan berbaring dengan lemas, karena dia tidak dapat melakukan apapun untuk mengembalikan kuda yang hilang. Saat matahari terbenam burung yang tidak jadi dipanah membangunkan Ivan, “Bangun, Tsar Ivan, semua kuda telah kembali ke kandang!” Ketika Baba Yaga mengetahui hal itu, dia menghardik kuda-kudanya, berteriak, “Mengapa kamu pulang?” Kuda-kuda itu menjawab, “Kami ketakutan sehingga kembali kesini. Burung dari seluruh dunia mendatangi kami dan mematuki kami!” Hari berikutnya singa membantu  Ivan mengembalikan kuda-kuda saat mereka lari. Baba Yaga sangat penasaran daripada sebelumnya. “Mengapa kamu pulang ke rumah kali ini?” “Ah, kami sangat ketakutan. Binatang buas dari seluruh dunia datang dan mengejar kami.”

Pada hari ketiga lebah menolong Ivan dan seekor lebah berkata, “Jangan kembali ke Baba Yaga. Pergilah ke kandang kuda, ambil seekor kuda kecil bungkuk dan larilah.” Ivan melakukan apa yang disarankan lebah.

Pagi harinya Baba Yaga mengetahui kalau kudanya hilang dan Pangeran Ivan melarikan diri, dia jatuh ke sungai api dan tenggelam. Ivan memelihara dengan baik kuda kecil itu dan tidak begitu lama telah berubah menjadi kuda yang kuat. Ivan kembali ke istana Koshchey dan mengajak Marya Morevna melarikan diri. Koshchey berusaha dengan keras mengejar mereka. Tetapi kuda Ivan mengalahkan kuda Koshchey. Marya Morevna and Ivan mengunjungi saudara ipar mereka dan pulang ke rumah. Semuanya hidup sangat bahagia setelah itu.

 

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB

yokovitara@gmail.com

 

P

 ada suatu ketika hiduplah keluarga petani yang memiliki satu ladang gandum. Suatu pagi mereka menemukan ladang gandum mereka semalam telah diinjak-injak seseorang dan merusakkan tanaman gandum mereka. Dua anak tertua menjaga ladang selama dua malam berikutnya, tetapi karena badai dan angin yang dingin membuat mereka meninggalkan ladang, dan di pagi harinya ladang mereka diinjak-injak lebih parah lagi. Pada malam ketiga, anak paling muda, Ivan, yang dianggap paling bodoh dalam keluarga, ternyata berhasil menangkap perusak ladang mereka yaitu seekor kuda betina.ivan2.jpg

Kuda itu memohon pada Ivan agar membiarkannya pergi dengan memberi Ivan dua tapal kuda emas yang keindahannya belum pernah terbayangkan dan kuda poni bungkuk yang akan menjadi teman baik Ivan. Saat waktunya tiba, Ivan dan saudara-saudaranya pergi ke pasar untuk menjual dua kuda yang sudah cukup umur. Dalam perjalanan Ivan menemukan bulu yang berkilauan dari burung api, walaupun kuda poninya memberi peringatan untuk tidak menyentuh bulu itu. Di pasar, Tsar sendiri yang menyukai kuda-kuda Ivan dan membelinya. Tetapi kuda-kuda itu lari dari kandang dan kembali ke Ivan. Akhirnya Tsar memberi Ivan pekerjaan di kandang kuda Tsar. Royal chamberlain, kepala kandang yang tugasnya diberikan pada Ivan, marah pada Ivan dan mengawasinya. Orang itu menemukan bulu burung api dan menceritakan pada Tsar. Tsar memerintahkan pada Ivan untuk menyerahkan burung itu padanya atau Ivan akan kehilangan kepalanya. Dengan bantuan kuda poni bungkuk, Ivan menangkap burung langka itu dan memberikannya pada Tsar. Chamberlain semakin geram dan semakin iri lebih dari sebelumnya.

Beberapa minggu kemudian Chamberlain mengatakan pada Tsar bahwa di kerajaan yang jauh ada seorang Tsar wanita yang kecantikannya mempesona. Dia juga mengatakan bahwa Ivan membual bisa mendapatkan gadis cantik itu. Tsar memanggil Ivan dan memerintahkan padanya utnuk menemukan wanita cantik itu. Ivan dan kuda poni bungkuknya berhasil. Tsar jatuh cinta pada wanita cantik itu dan melamarnya. Gadis itu mengajukan syarat agar cincinnya yang hilang ditemukan agar Tsar dapat menikahinya. Ivan dikirim untuk menemukan cincin itu.

Di tengah jalan dia menolong ikan paus raksasa dan sebagai tanda terimakasih ikan paus itu mengambilkan cincin dari dasar samudera. Tsar wanita itu, ternyata, tidak puas dan mengatakan pada  bahwa Tsar terlalu tua untuknya. Untuk membuatnya muda, Tsar harus masuk dalam tiga ketel air mendidih, susu mendidih, dan air. Hari berikutnya Tsar memerintahkan Ivan untuk masuk ke dalam ketel untuk menguji ramuan membuat muda. Ivan sangat ketakutan, tetapi kuda poni membantunya lagi. Ivan muncul dari ketel terakhir sebagai seorang yang sangat tampan. Hal itu membuat Tsar melompat ke air, tetapi dia terbakar hidup-hidup. Ivan dan Tsar wanita menikah, memerintah kerajaan, dan hidup bahagia setelah itu.

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB

yokovitara@gmail.com

P

ada masa yang lalu di sebuah kerajaan yang jauh, tiga gadis bersaudara berada di halaman sedang bercakap-cakap, membayangkan apa yang mereka lakukan bila mereka menikah dengan Tsar Saltan. Salah satu berkata bahwa dia akan menyediakan pesta besar untuk seluruh negeri. Gadis kedua mengatakan bahwa dia akan menenun kain linen untuk seluruh negeri. Gadis ketiga mengatakan dia akan memberikan pada Tsar “Seorang pewaris, yang tampan dan berani tanpa tandingan.”

saltan.jpgKebetulan saat itu Tsar, yang berada di luar pagar, mendengar semua pembicaraan itu. Ketika dia mendengar kata-kata gadis terakhir, dia menjadi jatuh cinta dan meminta gadis itu untuk menjadi isterinya. Mereka segera menikah dan gadis itu lalu mengandung. Dua gadis lainnya diberi pekerjaan sebagai juru masak dan juru tenun.

Beberapa bulan kemudian Tsar pergi berperang dan harus terpisah dengan isteri tercintanya. Saat dia berada dalam medan perang, isterinya, ratu, melahirkan. Seorang utusan dikirim untuk mengabarkan berita baik itu pada Tsar. Tetapi, dua saudara ratu dan seorang teman bernama Barbarika sangat cemburu pada keberuntungan ratu, sehingga mereka menculik utusan dan mengganti dengan utusan mereka sendiri yang membawa pesan untuk Tsar yang bunyinya: “Isterimu, ratu, telah melahirkan, bukan anak laki-laki dan bukan anak perempuan, juga bukan tikus atau katak, tetapi makhluk kecil aneh.”

Ketika dia membaca pesan itu, Tsar merasa malu dan mengirim surat kembali untuk mengatakan pada isterinya agar  menunggunya kembali sebelum mengambil tindakan. Saudara-saudara wanita ratu yang iri bertemu dengan pembawa surat, memberinya minum hingga mabuk, dan mengganti surat asli Tsar dengan surat palsu yang memerintahkan ratu dan bayinya di masukkan ke dalam tong dan dilempar ke laut.

Tentu saja, tidak ada yang berani membantah perintah Tsar, sehingga prajurit istana menempatkan ratu dan bayinya ke dalam tong dan melemparnya ke laut. Saat ratu menangis di dalam tong, anaknya tumbuh menjadi kuat, tidak dalam hitungan hari, tetapi dalam hitungan menit. Anak itu mohon pada ombak untuk membawa mereka ke daratan. Ombak menuruti dan anak itu beserta ibunya mendarat di pulau yang sunyi.

Sekarang mereka sangat lapar, anak itu membuat busur dan panah, menggunakan ranting pohon, dan pergi berburu. Dekat laut, anak itu mendengar pekikan dan melihat seekor angsa malang sedang diserang burung rajawali hitam yang besar. Ketika burung rajawali itu hendak menancapkan paruhnya di leher angsa, anak muda itu melepaskan panahnya, membunuh rajawali. Angsa putih berenang ke daratan, mengucapkan terimakasih dan berkata, “Yang kamu bunuh itu bukanlah rajawali sesungguhnya, tetapi seorang penyihir jahat. Karena telah menyelamatkanku, aku akan melayanimu selamanya.”

Anak itu kembali ke ibunya dan menceritakan pengalamannya, dan mereka jatuh tertidur, walaupun masih lapar dan haus. Keesokan harinya mereka bangun dan melihat kota dan melihat kota yang menakjubkan berdiri di depan mereka yang sebelumnya tidak ada! Dua orang itu merasa kagum dengan dua kubah emas dari bangunan di belakang tembok kota yang putih. “Menurutku, angsa-lah yang melakukan hal ini!” pikir ratu. Dua orang itu berjalan menuju kota dan kerumunan orang memberi selamat pada mereka dan mengangkat anak muda itu sebagai pangeran, dijuluki sebagai Pangeran Gvidon.

Suatu hari kapal pedagang berlayar dekat pulau itu, mereka melihat kota yang indah itu. Meriam kota ditembakkan untuk memberi tanda agar kapal mereka mendarat. Pangeran Gvidon menyambut mereka dan menghidangkan makanan dan minuman. Pangeran bertanya apa yang mereka jual dan kemana mereka akan pergi. “Kami menjual bulu binatang”, kata mereka, “dan tujuan kami adalah pulau Buyan tempat kerajaan Tsar Saltan.”

Gvidon mengatakan pada para pedagang untuk menyampaikan salam hormatnya pada Tsar, walaupun dia sudah mengetahui dari ibunya sebelumnya tentang pengusirannya dari kerajaan Tsar. Pangeran Gvidon adalah orang yang baik yang tidak percaya bahwa ayahnya dapat melakukan hal seburuk itu.

Saat para pedagang sedang menyiapkan diri untuk meninggalkan pulau, pangeran menjadi sedih memikirkan ayahnya. “Ada apa? Mengapa kamu murung,” kata angsa. “Aku ingin bertemu ayahku, Tsar”, jawab Gvidon. Kemudian, dengan percikan air, angsa mengubah pangeran menjadi rayap kecil, sehingga dia dapat bersembunyi di tiang kapal yang menuju ke kerajaan Tsar.

Ketika kapal tiba di kerajaan Tsar Saltan, Tsar menyambut para pedagang itu dan bertanya tentang pulau yang mereka lihat. Para pedagang menceritakan tentang pulau dan kota yang dikelilingi tembok, dan tetang keramahan Pangeran Gvidon. Tsar tidak mengetahui bahwa Pangeran Gvidon adalah anaknya, tetapi dia menyatakan ingin melihat kota yang indah itu. Dua saudara ratu dan Barbarika tua  tidak ingin membiarkan Tsar pergi,  dan berlagak tidak ada yang menakjubkan pada cerita para pedagang itu, mereka berkata, “ada tupai duduk di bawah pohon cemara, memecahkan kenari emas yang berbiji zamrud murni, dan menyanyikan sebuah lagu. Itulah yang benar-benar luar biasa!”

Mendengar hal itu, rayap, yang sebenarnya Pangeran Gvidon, menjadi marah dan menyengat mata kanan wanita tua itu. Setelah dia terbang kembali ke pulaunya, Gvidon menceritakan pada angsa cerita tentang tupai yang luar biasa. Kemudian Pangeran berjalan ke halaman, dan melihat, di sana ada tupai yang menyanyi, duduk di bawah pohon cemara, memecahkan kenari emas! Pangeran sangat senang melihatnya dan memerintahkan untuk membangun rumah kristal bagi binatang kecil itu. Pangeran menempatkan penjaga untuk mengawasi dan diperintahkan untuk mencatat setiap kulit kenari. Keuntungan buat Pangeran, kehormatan bagi tupai!

Beberapa waktu kemudian, kapal kedua datang ke pulau Pangeran dalam perjalanan ke istana Tsar dan Pangeran berkata lagi pada angsa keinginannya untuk bertemu ayahnya lagi. Kali ini, angsa mengubah Pangeran menjadi lalat, sehingga bisa bersembunyi di celah pada kapal.

Setelah kapal mendarat di kerajaan, para pelaut mengatakan pada Tsar Saltan tentang tupai menakjubkan yang mereka lihat. Saltan sekali lagi ingin mengunjungi kota yang diceritakan itu tetapi dicegah oleh dua saudara ratu dan Barbarika yang mentertawakan cerita pelaut dan menceritakan keajaiban yang lebih besar lagi –tentang tiga puluh tiga ksatria muda yang tampan, dipimpin oleh si tua Chernomor, muncul dari amukan samudera. Lalat,  Gvidon, menjadi sangat marah kepada wanita-wanita itu dan menyengat mata kiri Barbarika sebelum meninggalkan tempat itu.

Di istananya, Pangeran Gvidon menceritakan pada angsa tentang si tua Chernomor dan tiga puluh tiga ksatria, dan mengeluh bahwa dia tidak pernah melihat keajaiban itu. “Ksatria-ksatria itu berasal dari samudra luas yang kukenal,” kata angsa. “Jangan sedih, mereka adalah saudaraku dan mereka akan datang padamu.”

Setelah itu, Pangeran kembali dan memanjat menara di istananya untuk memandang ke laut. Tiba-tiba, sebuah ombak raksasa muncul dan menghantam pantai dengan keras, ketika surut, tiga puluh tiga ksatria dengan baju baja, dipimpin oleh Chernomor tua, muncul, siap untuk melayani Pangeran Gvidon. Mereka berjanji muncul tiap hari dari laut setiap hari untuk menjaga kota.

Beberapa bulan kemudian, kapal ketiga datang ke pulau. Seperti biasanya, Pangeran menyambut para pedagang itu dan mengirim salam pada Tsar. Ketika para pedagang itu menyiapkan diri untuk berangkat, Pangeran berkata pada angsa bahwa dia masih terus memikirkan ayahnya dan berharap dapat bertemu dengan ayahnya lagi. Kali ini angsa mengubah Pangeran menjadi lebah.

Kapal tiba di kerajaan dan para pedagang bercerita pada Tsar Saltan tentang kota ajaib yang mereka lihat dan tentang tiga puluh tiga ksatria yang dipimpin si tua Chernomor muncul dari laut setiap hari untuk melindungi pulau.

Tsar takjub mendengarnya dan ingin melihat pulau yang luarbiasa itu, tetapi sekali lagi dicegah oleh dua saudara ratu dan  si tua Barbarika. Mereka menganggap remeh cerita para pedagang dan berkata yang benar-benar ajaib adalah di bawah laut hidup puteri yang sangat mempesona sehingga semua lelaki yang melihatnya tidak akan dapat berpaling. “Cahaya matahari akan meredup karena kecantikannya, kegelapan malam akan diterangi oleh kecantikannya. Jika puteri itu bicara seperti suara air yang mengalir tenang. Itulah keajaiban!” kata mereka. Gvidon, yang menjadi lebah, sangat marah pada wanita-wanita itu dan sekali lagi menyengat hidung Barbarika. Mereka berusaha menangkapnya, tetapi sia-sia. Pangeran dapat selamat sampai di rumah.

Setelah tiba di pulau, Gvidon berjalan-jalan di pantai sampai bertemu angsa putih. “Mengapa begitu murung kali ini?” tanya angsa. Gvidon mengatakan bahwa dia merasa sedih karena dia tidak punya isteri. Dia menghubungkan cerita yang didengarnya tentang Puteri cantik  yang kecantikannya menerangi kegelapan, yang kata-katanya mengalir bagai air yang tenang. Angsa terdiam beberapa saat, kemudian mengatakan bahwa puteri seperti itu ada. “Tetapi seorang isteri,” kata angsa, “Tidak ada sarung tangan yang dapat mudah dipakai dengan satu tangan.” Gvidon mengerti untuk itu dia bersiap untuk melakukan perjalanan dalam sisa hidupnya dan ke seluruh penjuru dunia untuk mencari Puteri yang menakjubkan itu. Kali ini, angsa mendesah dan berkata:

Tidak perlu perjalanan jauh,
Tidak perlu bersusah payah.
Wanita yang kau inginkan,
Sekarang dapat kau lihat.
Akulah puteri itu.

Setelah berkata, angsa mengepakkan sayapnya dan berubah menajadi wanita cantik seperti yang didengar oleh pangeran. Keduanya berpelukan dan Gvidon membawa Puteri untuk menemui ibunya. Pangeran dan gadis cantik itu menikah pada malam itu juga.

Tak lama kemudian, datang kapal lain ke pulau. Seperti biasa, Pangeran Gvidon menyambut para pelaut itu dan, saat mereka pergi, dia mengirimkan salam buat Tsar dan juga mengundangnya. Merasa bahagia dengan isterinya, Gvidon memutuskan tidak meninggalkan pulau kali ini. Ketika kapal tiba di kerajaan Tsar Sultan, para pelaut sekali lagi menceritakan pulau menakjubkan yang mereka lihat, juga tentang tupai yang bernyanyi sambil memecahkan kenari emas, tiga puluh tiga ksatria yang muncul dari laut, dan puteri yang kecantikannya tak tertandingi.

Kali ini Tsar tidak mendengarkan sindiran dan ejekan dari saudara ratu dan Barbarika. Dia memanggil armadanya dan berlayar menuju pulau secepatnya. Ketika tiba di pulau,  Prince Gvidon menyambut Tsar. Tanpa berkata apa-apa, Gvidon mengajak mereka, bersama dengan dua saudara tiri atau bibi Gvidon sendiri dan Barbarika, ke istana. Sepanjang jalan, Tsar melihat semua yang didengarnya dari pelaut selama ini. Di pintu gerbang terdapat tiga puluh tiga ksatria dan si tua Chernomor menjaga. Di halaman ada tupai aneh, bernyanyi sambil menggerogoti kenari emas. Di taman ada puteri cantik, isteri Gvidon. Dan kemudian Tsar melihat hal yang tak diduganya: di sebelah puteri berdiri ibu Gvidon, isteri Tsar yang telah lama hilang. Tsar segera mengenalinya. Dengan air mata mengalir di pipi, Tsar berlari dan memeluk isterinya, dan tahun-tahun penuh kepedihan kini terlupakan. Kemudian Tsar mengetahui bahwa Pangeran Gvidon adalah anaknya, dan keduanya segera saling berpelukan.

Pesta meriah segera diadakan. Dua saudara ratu dan Barbarika bersembunyi dengan malu, tetapi akhirnya mereka ditemukan. Mereka menangis, mengakui semuanya. Tetapi Tsar merasa bahagia sehingga dia membiarkan mereka pergi. Tsar dan ratu, Pangeran Gvidon dan puteri hidup bahagia dalam sisa hidupnya.

 

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB 

(yokovitara@gmail.com)

 

S

uatu ketika pendeta pergi ke pasar dan bertemu Balda. Balda bertanya kepadanya: “Bapa, mengapa bangun pagi sekali? Apakah anda mencari sesuatu?”

“Aku membutuhkan seorang pembantu untuk memasak, mengurus kandang kuda dan tukang kayu secara bersamaan dengan bayaran yang murah.” Balda menawarkan bantuannya:. “Saya dapat bekerja keras untuk anda. Saya hanya makan sedikit. Dan gaji saya hanya tiga pukulan pada dahi pada akhir tahun.”

Pendeta berpikir sejenak dan setuju. Balda benar-benar seorang pekerja yang sangat baik dan semua orang mendoakannya kecuali pendeta. Dia terus memikirkan tiga pukulan yang harus dibayarkan pada Balda dan tidak dapat tidur tiap malam dan merasa tidak enak makan. Pendeta menceritakan pada isterinya tentang perjanjiannya dengan Balda. Isteri pendeta yang licik berkata: “Berikan dia pekerjaan di atas kemampuannya. Jika dia tidak mampu memenuhi permintaanmu, kamu tidak perlu memberinya bayaran!”

Pendeta kegirangan dan berkata pada Balda: “Balda, iblis berjanji untuk membayar pajak padaku, tetapi mereka telah tiga tahun tidak membayar. Pergilah kepada mereka dan mintalah uang pada mereka!”

Tanpa berkata apa-apa Balda pergi ke laut, memegang ujung jubah dan mulai memutar-mutarnya di atas air. Hal itu membuat iblis gelisah. Iblis tua muncul dari dalam air dan bertanya kepada Balda mengapa dia mengganggu mereka. Balda menjawab bahwa mereka berjanji membayar pajak kepada pendeta, tetapi selama tiga tahun mereka tidak membayar.

Iblis tertua mengirim cucunya untuk bicara pada Balda di tepi pantai. Iblis kecil itu menyarankan: “Mari kita adu lari. Jika menang, kamu akan mendapat uang.” Balda setuju, “Baik, tetapi izinkan saudara termudaku yang menggantikan aku berlari.”

Balda pergi ke hutan terdekat, menangkap dua ekor kelinci, memasukkannya ke dalam tas dan kembali ke laut. “Aku siap. Kamu, iblis kecil, terlalu lemah untuk dapat mengalahkan saudaraku. Satu, dua, tiga, larilah bersamanya”, kata Balda dan membiarkan seekor kelinci  lepas untuk berlari ke rumahnya di hutan. Tetapi iblis kecil berlari sangat cepat dan berpikir bahwa dia, tentu saja, tiba duluan. Kembali ke tepi pantai dan garis finish, iblis kecil melihat Balda duduk di atas gundukan pasir dan menimang-nimang kelinci. “Saudaraku sayang”, kata Balda sambil mengelus-elus kelinci, “Kamu lelah, istirahatlah.” Iblis kecil ketakutan dan kembali kepada kakeknya

“Oh, sial, aku kalah.” Mereka duduk dan memikirkan bagaimana cara mengalahkan Balda. Tetapi Balda menjadi marah dan sekali lagi memutar-mutar jubahnya di dalam laut. Iblis kecil datang kepadanya. Balda berkata: “Sekarang aku yang menentukan pertandingannya. Lihat, kuda di sana itu. Jika kamu dapat membuat kuda itu berdiri dan menunggangnya sampai setegah mil, kalian tak perlu membayar pajak.” Iblis kecil merangkak di bawah kuda dan mencoba mengangkatnya. Gagal. Kemudian Balda membuat kuda itu berdiri dengan perintahnya, duduk di atas kuda dan mengendarainya sampai satu mil. Sekali lagi dia memenangkan pertandingan.

Iblis kecil melarikan diri menuju ke kakeknya dan bercerita tentang kemenangan Balda. Akhirnya,  tidak ada lagi yang dapat dilakukan iblis kecuali mengumpulkan uang dalam tas dan memberikannya pada Balda yang cerdik.

Balda kembali ke rumah dan memberikan uang pada pendeta. Kemudian memberi tiga pukulan pada pendeta yang licik, membuatnya terjatuh dan berkata: “Ini terlalu murah untuk gajiku!”

Laman Berikutnya »