D

i sebuah desa kecil hiduplah tiga bersaudara. Dua diantaranya sudah menikah, kecuali yang bungsu. Mereka adalah pedagang. Si bungsu adalah seorang yang bodoh, namanya Emelya [e MEL ya]. Suatu hari pada musim dingin kedua kakak Emelya pergi ke pasar yang jauh letaknya, sehingga harus pergi untuk beberapa hari. Untuk itu mereka minta pada Emelya agar menjaga isteri-isteri mereka. Emelya tinggal di rumah dan tidur di atas tungku yang hangat.

Keesokan harinya kakak ipar Emelya memintanya untuk mengambil air dari sungai. Emelya mengomel, “Biarkan aku tenang. Aku ingin tidur. Pergilah sendiri.” Kakak ipar Emelya berusaha membujuk agar dia mau mengambilkan air dari sungai dengan menjanjikan akan membelikan  jaket dan topi merah. Mereka mengetahui bahwa Emelya menyukai pakaian merah. Begitu mendengar janji itu, Emelya segera bangun dari tidurnya di atas tungku dan pergi ke sungai. Dia mengambil air dengan embernya, tiba-tiba dilihatnya seekor ikan pike di lubang es, dengan segera ditangkapnya ikan itu. “Ikan pike bakar sangat lezat rasanya,” pikir Emelya. Tetapi sebelum Emelya melaksanakan niatnya, ikan pike itu berkata, “Lepaskan aku, Emelya. Aku akan memberimu apapun yang kau minta. Asal kamu mengatakan, ‘Atas nama ikan pike, kuperintahkan,’ dan semua akan terjadi.” Emelya melepaskan ikan itu dan berkata dengan suara keras: “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, ember, kembalilah ke rumah.” Maka ember-ember berisi air itu berjalan sendiri menuju ke rumah. Hal itu membuat kakak ipar Emelya sangat terkejut. Karena telah menyelesaikan tugasnya Emelya melompat lagi ke atas tungku dan kembali tidur.

Pada lain hari dua kakak ipar Emelya berniat membuat kue serabi, tetapi mereka kekurangan kayu bakar. Mereka meminta Emelya untuk pergi ke hutan mencari kayu bakar dan berjanji membuatkannya kue serabi, yang sangat disukainya. Emelya ke halaman, duduk di palu besar dan berbisik, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, palu, pergi ke hutan.” Palunya hampir seperti terbang ke hutan! Di hutan, Emelya membiarkan kapaknya melakukan tugasnya. Sayangnya dalam perjalanan pulang, banyak orang tertabrak palunya.

Setelah tiba di rumah, Emelya melompat kembali ke tungku dan tidur. Tsar mendengar tentang kecelakaan yang diakibatkan palu Emelya, sehingga dia memerintahkan prajuritnya untuk menemukan Emelya dan membawanya ke istana. Prajurit menemukan rumah Emelya, masuk dan berteriak, “Emelya, kemarilah. Kamu harus pergi bersamaku ke istana Tsar!” Dari atas tungku Emelya menggerutu, “Mengapa? Aku senang di sini. Tinggalkan aku.” Saat prajurit memaksanya turun, Emelya menjadi marah dan berteriak, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, gada, kemari dan beri salam pada prajurit Tsar.” Gada muncul dan memukuli prajurit.

Kemudian Tsar mengirim prajurit lain ke rumah Emelya. Prajurit ini lebih cerdik; dia membawa kismis, buah prem yang dikeringkan, dan roti yang dibubuhi jahe untuk membujuk Emelya agar mau datang ke istana  Tsar. Emelya menghabiskan makanan yang dibawa prajurit itu dan akhirnya bersedia datang ke istana Tsar. Emelya mengenakan jaket tuanya yang penuh gambar-gambar dan dengan suara keras berkata, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, tungku, bawalah aku ke istana Tsar!”

Saat Emelya, mengendarai tungku, muncul di halaman istana Tsar, semua memandangnya dari tangga, gelisah melihat Emelya. Hal itu terjadi ketika puteri Tsar ada di antara mereka. Ketika Emelya melihatnya, timbul rasa sukanya dan berbisik, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, aku ingin gadis cantik itu jatuh cinta padaku.” Setelah itu Emelya memerintahkan agar tungkunya membawanya pulang.

Puteri Tsar merasa rindu pada Emelya dan meminta ayahnya agar mengizinkan Emelya menikahinya. Tsar menjadi sedih, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa, jadi dia mengirim seorang prajurit untuk mendatangkan Emelya ke istana lagi. Prajurit itu membawa banyak makanan ke rumah Emelya. Setelah Emelya selesai memakan semua yang dibawakan, dia merasa mengantuk dan tertidur. Prajurit membawanya ke hadapan Tsar. Kemudian Emelya dan puteri Tsar diletakkan dalam tong besar dan dilempar ke laut.

Ketika Emelya terbangun, dia menemukan dirinya dalam sebuah tong besar dengan seorang gadis cantik. Sambil terisak, gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Emelya berkata, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, aku ingin gelombang membawa tong ini ke pantai.” Sesaat kemudian mereka telah selamat dan mendarat di sebuah pulau yang indah.

“Kekasihku, Emelya, dimana kita akan tinggal? Dapatkah kamu membangun sebuah gubuk kecil untuk kita?” tanya puteri Tsar. Emelya mengangguk dan berkata dengan keras, “Atas nama ikan pike, kuperintahkan, bangunkan aku istana terindah di dunia di sini!” dengan segera, sebuah istana pualam lengkap dengan para pelayan muncul. Kemudian puteri bertanya lagi, “Emelya sayang, dapatkah kamu menjadi lebih tampan?” Seketika Emelya mengubah dirinya menjadi seorang yang tampan dan cerdas. Mereka hidup bahagia sebagai penguasa pulau.

Suatu hari Tsar datang ke pulau itu dan melihat sebuah istana yang megah. Ketika Emelya menyambutnya, Tsar tidak mengenali Emelya. Tetapi kemudian Tsar bertemu dengan puterinya yang menceritakan semua yang telah terjadi antara dia dan Emelya. Tsar menangis dan memberi ampunan pada mereka. Selanjutnya diadakan suatu pesta pernikahan yang besar, saudara-saudara Emelya juga diundang. Setelah itu semua hidup dalam damai dan cinta.

Karya Penyair Rusia: Aleksander Pushkin

Diterjemahkan secara bebas dari  edisi Bahasa Inggris Karya  Andrew Stonebarger 1998

Oleh: Yoyok RB