mencari belut

mencari belut (gambar diolah dari pasirlutung.blogspot.com)

Belut, makhluk air yang panjang, mirip ular, tetapi tidak berbisa. Biasa hidup di lubang-lubang di sawah atau di dekat sungai-sungai kecil atau saluran pengairan di sawah. Makhluk ini termasuk jenis ikan atau apa aku tidak tahu, soal haram atau halalnya aku juga tidak tahu, yang penting rasanya gurih kalau digoreng. Belut biasanya muncul pada malam hari pada saat sawah baru selesai dipanen atau saat masih direndam air. Pada saat seperti itu akan mudah menangkap belut (biasanya dilakukan malam-malam sambil membawa obor atau lampu petromak disebut juga nyuluh dari asal kata suluh atau menerangi dengan lampu). Pada malam hari saat belut-belut itu keluar, sinar terang dari lampu akan membuat binatang yang licin itu terdiam sehingga akan dapat dengan mudah ditangkap. Pada musim panen seperti itu, biasanya anak-anak SD seperti aku, Ari, dan Riza, sudah siap sejak sore untuk menangkap belut. Accu, lampu, ember, dan pisau sudah disiapkan untuk menangkap belut. Kami kemudian pada malam harinya berangkat menuju sawah yang ada di belakang rumahku. Saat itu orang dewasa yang ikut dengan kami adalah Pak Suwandi seorang tukang cukur sekaligus tukang becak tetanggaku. Kami berangkat bersama-sama ke sawah. Setibanya di sawah kami segera menerangi sawah yang tergenang air, puluhan belut tampak berkeliaran di sawah. Saat disinari lampu, belut itu akan terdiam dan kita tinggal memukul kepala belut itu dengan pisau, matilah belut itu dan tinggal dimasukkan ke dalam ember. Begitulah kami asyik mencari belut sampai dapat satu ember penuh.
Ketika kami berjalan beriringan di pematang sawah, mendadak di sebelah kiriku muncul ular weling besar dan panjang. Kami tidak berani bergerak, ular itu terus berjalan melewati kami. Ular weling sepengetahuanku adalah ular yang gigitannya sangat mematikan. Setelah ular itu lewat kami naik ke jalan yang kering dan memutuskan untuk segera pulang. Sejak kejadian itu kami tidak pernah lagi mencari belut di malam hari. Kalau ingin makan belut, maka kami memberi potas (racun) di sawah. Tetapi tentu saja cara itu berbahaya karena semua binatang air akan mati dan sawahnya juga tercemar racun. Lagipula, pemilik sawah akan marah-marah kalau tahu sawahnya diberi potas, sebab akan merusak tanaman padinya. Akhirnya setelah dewasa dan punya uang kami memilih cara yang praktis, beli.