Seorang ahli paleontologi dari Jerman bernama Dr. Hermann Nigel menerima pekerjaan dari seorang bangsawan kaya yang tidak mau disebutkan namanya. Pekerjaan yang sangat menarik dan bergaji tinggi, yaitu meneliti dan mencari naskah-naskah dongeng dari seluruh dunia. Suatu ketika saat melakukan penggalian di dekat gua Geissenkloesterle di Blaubeuren, Dr, Hermann Nigel menemukan lempengan batu dari zaman kuno yang gambar dan tulisan dalam bahasa Armenia yang mengisahkan tentang Putri Salju. Lempengan yang ditemukan oleh Dr. Hermann Nigel berjumlah dua puluh tiga, terdiri atas dua puluh satu lempengan batu berukuran besar yaitu 50 x 75 cm, dan dua buah lempengan berukuran kecil yaitu 30 x 25 cm yang fotonya dapat dilihat di bawah ini.

Project Snow White2 Project Snow White3

Sedangkan untuk kedua puluh satu lempengan lainnya, Dr. Hermann Nigel tidak bersedia untuk mempublikasikan gambarnya, karena dia tidak ingin penemuannya dibajak orang lain. Akan tetapi Dr. Hermann Nigel telah menerjemahkan seluruh lempengan batu yang berbahasa Armenia kuno itu ke dalam bahasa Inggris dan menyusunnya dalam sebuah buku yang berjudul: The Real Story of Snow White. Selain itu, Dr. Hermann Nigel juga telah menyusun peta kuno yang menunjukkan lokasi terjadinya kisah dalam cerita Putri Salju pada lempengan batu yang ditemukannya, di bawah ini adalah peta yang disusun oleh Dr. Hermann NigelSNOW WHITE KINGDOM

Berdasarkan penemuannya itu, Dr. Hermann Nigel yakin bahwa kisah Putri Salju benar-benar ada, bukan hanya dongengan saja. Setelah kerja keras, mulai tahun 2012, akhirnya terjemahan dari lempengan-lempengan batu itu akhirnya berhasil diselesaikan oleh Dr. Hermann Nigel.

Maka di tahun 2014 terbitlah buku THE REAL STORY OF SNOW WHITE

COVER SNOW WHITE

DAPATKAN HANYA DI GOOGLE PLAY STORE

https://play.google.com/store/books/details/Yoyok_Rahayu_Basuki_THE_REAL_STORY_OF_SNOW_WHITE?id=jHcZAwAAQBAJ&hl=in

Video promo dapat dilihat di

Pada masa kecilnya Gajah Mada pernah menolong seorang anak dari himpitan patung batu yang besar. Saat itu, ketika Dipa (nama Gajah Mada waktu kecil) sedang bermain dengan teman-temannya, mendadak, salah seorang temannya terjepit patung besar. Akhirnya dengan sekuat tenaga Dipa berhasil mengangkat patung itu, walau setelah itu dia pingsan. Setelah kejadian itu, Patung dewa itu hilang, tentu saja Dipa menjadi sasaran kemarahan warga. Untung ada seorang brahmana muda bernama Anuraga yang menolong Dipa dan membelanya sampai tingkat pengadilan di desa. (Ingatan dari kisah Gajah Mada dalam buku Gajah Kencana Manggala Majapahit, karangan S.Djatilaksana)

Buku baru tentang Putri Salju
Tahun ini akan muncul kisah tentang Putri Salju yang sebenarnya!! Mungkin kita selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya nama ibu tiri putri salju, siapa nama ayahnya, dan apa penyebab meninggalnya ibu Putri Salju, siapa Pangeran yang menyelamatkan Putri Salju dan dari mana asalnya? Semua pertanyaan itu akan terjawab dalam buku ini, THE REAL STORY OF SNOW WHITE, tunggu tanggal terbitnya, jangan sampai ketinggalan!!!

Supersonic Santa vs Free-falling Felix

Browse more infographics.

ANGRY BIRD?

ANGRY BIRDS?

guided by ghost
This story happened in my childhood. At that time the motor vehicle not as much now. The highway was deserted, only one or in two vehicles. Always went everywhere on foot. Walking makes the body healthy. That night, I was with Ari and Riza were heading to the village Peniwen a distance of approximately 5 km. In order to quickly get us through the shortcut often we passed during the day. Between my village and the village Peniwen limited by bamboo forests, rivers, and fields. We passed through a bamboo forest without a flashlight, torches, lights, or anything to light the way. We felt it was memorized, because we often pass that way. In addition, there are areas that we passed some houses that despite the distance apart but there is light we can make the guidelines. We walked hand in hand while talking, so do not feel we’ve been through bamboo forests, across rivers, and through the rice fields. We arrived in the village Peniwen safely.
For fear of late, we go home, not too long in the village Peniwen. The time was around 19:00, a lot of houses that have been turned off the lights. The road getting dark. Especially when we entered the bamboo forest, the darkness is getting real.
“Well, it was getting dark. Unable to see anything!” Riza said.
“We quickened our steps!” I said.
Suddenly in front of me I see people wearing mukena (white garment used by women who are Muslims to prayer).
“Let’s just follow her, hurry!”
So we followed the woman wearing white mukena. The white color of mukena it allows us to see in the dark. We continued to follow the woman until we arrived at the light. When it reached the light, suddenly she was not seen again.
“Why, where a woman wearing a white mukena?” I asked.
We looked around, but no one is passing.
“Well, perhaps it is not a human being?” Ari said.
“Yes, let’s get out of here,” I said.
We immediately rushed to leave the place and did not dare look back, into the bamboo forest. Maybe there is a creature dressed in white clothes looking at us from the darkness in the bamboo forest.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.